#Renungan 24: Keinginan dan Terlambat



Pagi tadi, ponakan perempuan saya yang berumur tiga tahunan pamer sendal baru. Sendal jepit berwarna pink dengan bulatan bulu di atas jepitnya. Sendal model ini memang beberapa waktu lalu sangat hits. Ada juga untuk orang dewasa. Sorenya, tetangga saya yang berumur empat tahunan, teman main ponakan, membeli sendal yang sama. Keinginan anak itu untuk memiliki sesuatu yang sama dengan ponakan saya begitu cepat terpenuhi. Berbeda dengan diri saya waktu kecil hingga terbawa dewasa.
Saat TK, saya ingin sendal bakiak modern seperti milik sepupu. Sendal itu sampai saya bawa pulang dan perlihatkan kepada emak. Saya bilang, ingin sendal seperti itu. Emak hanya mengiyakan, tapi tidak sekarang. Katanya nanti, kalau gentengnya laku. Waktu itu orang tua saya berwirausaha membuat genteng. Sabar menunggu, akhirnya saya pun dibelikan sendal itu. Agak lama, hingga boomingnya sudah lewat. Haha.
Beranjak kelas dua SD, teman-teman saya mempunyai sepeda. Mereka semua punya sepeda dan bersepeda bersama di minggu pagi. Saya selalu tertinggal kegiatan itu karena tak punya sepeda. Keinginan saya ikut bersepeda sangatlah besar. Karena Senin paginya mereka selalu membicarakan keseruan bersepeda kemarin, dan saya tak pernah mengerti apa yang mereka bicarakan. Mereka asyik bercerita, saya mendengarkan seorang diri. Ketika saya menyampaikan keiginan punya sepeda, orang tua saya pun meminta untuk menunggu. Satu tahun setelahnya, saya baru dibelikan sepeda.
Berlanjut ke SMP, saat semua teman-teman saya punya HP. Jaman dahulu, belum ada android, jadi jangan dibayangkan HP canggih semacam BBM atau Android. Maksud saya, HP sejenis Nokia, Soni, dan lain-lain. Teman-teman saya bertukar nomor HP kemudian saling berkirim pesan. Saya tak bisa melakukannya dan di usia itu, saya mulai mengekang keinginan yang perlu disampaikan pada orang tua. Tak saya ungkapkan bahwa semua teman punya HP dan saya juga ingin punya. Karena saya tahu, jawaban mereka pasti menyuruh menunggu. Seperti sebelum-sebelumnya. Lama-lama saya sadar bahwa tak semua keinginan saya pantas diungkapkan pada mereka.
Saat itu, saya pun menyiasatinya dengan berbagi HP bersama kakak perempuan. Nomor kakak, saya akui sebagai milik sendiri juga. Sehingga teman-teman bisa menghubungi saya dan sebaliknya. Dua tahun kemudian, barulah tabungan saya mencukupi untuk membeli HP. Kejadian ini pun terulang saya SMA. Semua teman saya punya motor, dan saya tidak. Saya tak pernah minta pada orang tua.
Hari ini, saya menyadari bahwa keinginan saya ternyata selalu terlambat. Terlambat terpenuhi. Tak seperti keinginan anak-anak lain. Teman-teman saya dulu, selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Hingga semua keterlambatan yang saya alami membuat diri ini sungkan mengungkapkan keinginan pada orang tua. Saya lebih suka membebani diri sendiri, ketika menginginkan sesuatu. Efeknya mungkin baik, karena saya peka terhadap keadaan dan bisa mengendalikan setiap keinginan. Tapi, ada pula buruknya, yaitu membebankan semuanya pada diri sendiri hingga kadang merasa sendirian dan lelah sendirian untuk meraih keinginan-keinginan itu.

*gambar diambil dari google

*ditulis untuk #1minggu1cerita


0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers