Film My Love My Bride: Menikah; Belajar Cinta yang Sebenarnya

Sutradara: Im Chan-sang
Produser: Byun Bong-hyun
Penulis: Kim Ji-hye
Pemeran: Jo Jung-suk, Shin Min-ah
Tanggal rilis: 8 Oktober 2014
Durasi: 111 menit
Negara: Korea Selatan

“Apa seseorang tahu arti cinta ketika membicarakannya? Butuh berapa banyak cinta untuk mendefinisikan arti cinta?”

Film ini dibuka dengan adegan yang menarik dan dikemas jenaka. Tokoh utama laki-laki, Young-min (Jo Jung-suk) sedang menunggu pacarnya dengan sebuah cincin, sembari chatting di grup pertemanannya. Young-min membuka obrolan di grup dengan kalimat ‘aku pikir... aku akan menikah’. Seorang teman yang masih lajang memberinya selamat. Di tempat lain, teman-temannya yang sudah menikah digambarkan sedang repot mengurus anak. Membaca pesan dari Young Min, semua temannya yang sudah menikah bersikeras melarangnya, dengan alasan berdasarkan pengalaman. Katanya, ‘jangan menikah. kau akan tetap kesepian setelah menikah. pulanglah, bodoh. aku serius’.
Kemudian, film bergerak pada pernikahan Young-min dan Mi-young (Shin Min-ah). Seperti orang-orang yang menikah pada umumnya, mereka sangat bahagia. Saat itu, bayangan menikah di kepala mereka adalah kehidupan penuh kebahagiaan selamanya. Mereka mengucapkan kalimat-kalimat manis semacam ‘aku akan membahagiakanmu selamanya’ dan ‘aku mencintaimu selamanya’. Tapi, kenyataan berkata lain. Pertengkaran datang menghampiri kehidupan rumah tangga mereka setiap hari, walaupun baru di awal pernikahan. Mulai dari kebiasaan keduanya sehari-hari yang mengganggu satu sama lain, kecemburuan, hingga salah paham yang berujung pada pertengkaran besar. Mi-young merasa lelah dengan semua pertengkaran, dan ingin memikirkan ulang tentang pernikahan mereka. Min-young hampir saja ingin bercerai. Lalu, salah paham di antara mereka mulai terurai. Mereka saling meminta maaf dan berbaikan.


“Kau bertengkar dengan suamimu?”
“Itu sudah rutinitas kami. Setiap hari kami bertengkar. Dia mungkin sudah bosan denganku. Aku mungkin tidak penting dalam hidupnya.”

Konflik rumah tangga yang diangkat dalam film ini dibagi dalam beberapa tema. Dan, semua tema yang diambil terasa dekat dengan kehidupan nyata. Diawali dengan tema rumah baru yang menggambarkan kehidupan awal mereka sebagai pengantin, bergerak halus ke tema omelan yang berarti dimulainya percecokan mereka, kemudian godaan orang ketiga dari kedua belah pihak, dan berakhir pada belajar mencintai dalam pernikahan. Semua tema itu bersatu menjalin sebuah cerita utuh, yang seolah menggambarkan grafik konflik umum dari awal hingga puncak pernikahan. Setiap tema digarap dengan sederhana tapi tetap apik dan realistik. Seolah tidak ada yang dibuat-buat, dan penonton percaya bahwa sebagian besar rumah tangga mengalaminya. Misalnya saja, permasalahan kecil seperti sang suami selalu sembarangan meletakkan barang, jorok menggunakan kamar mandi, berbohong saat pulang larut, sementara istri selalu mengomel dan sering marah. Saya yang belum menikah jadi terbayang kalau nanti mungkin akan seperti itu. Karena biasanya perempuan memang lebih rapi daripada laki-laki, perempuan juga suka ngomel-ngomel—ada juga yang enggak, sih hhee. Ketika sifat dasar itu bertemu dalam sebuah rumah, maka apa yang ada dalam film ini akan terjadi.




Tidak hanya masalah rumah tangga berdua saja yang diangkat, tetapi juga konflik individu saat dihadapkan dengan keadaan yang sekarang sudah tak sendiri. Impian yang dulu rasanya ingin sekali diraih dan diusahakan begitu keras, mulai terpinggirkan perlahan. Young-min yang suka menulis puisi waktunya lebih banyak tersita untuk bekerja. Sementara Mi-young mengesampingkan keinginanya melukis. Mi-young mengajar melukis di sebuah lembaga pendidikan, tak sempat menggores kanvasnya sendiri karena sibuk bekerja dan mengurus rumah. Sesuai dengan realita, sebagian orang yang sudah menikah akan dihadapkan pada konflik batin yang demikian. Antara melanjutkan mimpi atau mengesampingkannya demi kepentingan lain. Saya pun sempat bertanya dalam hati, apakah sebuah impian pantas ditukar dengan pernikahan? Lalu, seiring berjalannya waktu film ini menjawab dengan keduanya yang melanjutkan mimpinya.

“Aku berpikir diriku terus melukis. Kuanggap diriku sedang melukis saat sedang memerika lukisan murid-murid dengan pensil di tanganku.”

Sayangnya, seperti sebuah film drama-romantis pada umumnya, semuanya berakhir manis dan mulus. Impian yang tertunda bisa dilanjutkan, penyelesaian konflik di akhir pun tergolong mudah. Padahal dalam kehidupan nyata, banyak sekali yang merasakan pahit terpaksa melepas impiannya. Kemudian, ada juga yang perlu melalui jalan terjal untuk berbaikan. Tapi, di luar semua itu film ini tetap dapat dinikmati dengan baik.

Menikah; Belajar Cinta yang Sebenarnya

Kata cinta yang sering diagungkan muda-mudi saat kasmaran rasanya menjadi kerdil setelah saya nonton film ini. Arti cinta yang dipahami ketika belum menikah, seolah tak ada apa-apanya. Dua hal dasar yang terlihat kentara pada film ini adalah saling memahami dan membunuh ego. Setiap pertengkaran yang mereka alami, selalu berawal dari ego masing-masing yang tak mau kalah. Semuanya akan kembali baik-baik saja ketika mereka mau saling memahami dan mengesampingkan egonya. Dan, dua hal itu tak mungkin dilakukan tanpa perasaan mencintai pasangan. Di satu waktu mereka bertengkar kecil hingga hebat, tapi di waktu lain mereka menyadari bahwa semua pertengkaran itu tidak ada artinya dibandingkan perasaan mencintai satu sama lain. Walaupun mereka sudah sadar akan itu, mereka tetap sering bertengkar dan akan selalu berbaikan. Begitu seterusnya, sebuah pernikahan berjalan diiringi pertengkaran kemudian kembali pada perasaan cinta yang menyatukan. Pernikahan menjadi ladang yang tepat untuk belajar arti cinta yang sebenarnya.
Saya menobatkan film ini sebagai film yang harus ditonton bagi yang belum/akan menikah. Karena ada banyak hal tentang pernikahan yang bisa diambil. Pun makna cinta dari perspektif orang yang sudah menikah. Apalagi di jaman sekarang, ketika perasaan cinta dengan mudah ‘dipamerkan’ ke semua orang saat sedang bersemi, tetapi begitu mudah luntur saat diterpa badai. Bayangan pernikahan yang sangat membahagiakan seperti yang sering kita lihat di media sosial akan berubah setelah nonton film ini.

Rate: 4/5


0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers