Film Le Grand Voyage: Perjalanan Menemukan Kasih Sayang yang Terlambat


Sutradara: Ismaël Ferroukhi
Produser: Humbert Balsan
Penulis: Ismaël Ferroukhi
Aktor: Nicolas Cazalë, Mohamed Majd
Distribusi: Pyramide Distribution
Tanggal rilis: 7 September 2004
Durasi: 108 minute


Tahun 2004, film ini tayang dan setahun setelahnya memenangkan Golden Astor for Best Film di Mar del Plata International Film Festival. Pertemuan saya dengan film ini bisa dibilang tak sengaja. Pencarian film bertema hubungan orang tua dengan anak mengantarkan saya pada film Le Grand Voyage. Dan, saya menobatkannya sebagai film sepanjang masa. Film yang perlu saya abadikan untuk ditonton orang-orang yang saya sayangi—suami dan anak misal, ehem.
Dari Perancis Selatan, kisah ini bermula ketika seorang Ayah ingin menunaikan ibadah Haji menggunakan mobil. Kakak tertua dalam keluarga mereka tak bisa mengantar, karena surat ijin mengemudinya ditahan setelah melakukan pelanggaran lalu lintas. Maka, Reda, sang adik yang terpaksa menggantikan tugas itu. Padahal hubungan Reda dan Ayah kurang baik. Mereka punya prinsip hidup dan keyakinan tentang Tuhan masing-masing. Ayah Reda pemeluk islam yang taat, sementara Reda dalam film hanya digambarkan tak pernah beribadah (shalat). Perjalanan keduanya dimulai tanpa percakapan hangat. Di perjalanan jauh itu, tampak sifat keduanya yang sama keras kepala. Hal kecil semacam memilih jalan mana yang harus dilewati saja diperdebatkan sengit.
“Mengapa Ayah tak naik pesawat ke Mekkah? Itu jauh lebih mudah.”
“Saat air laut naik ke langit, ia akan kehilangan rasa asinnya untuk menjadi murni kembali.”
“Apa?”
“Air lautan menguap saat ia naik menuju ke awan. Dan saat air laut menguap, ia menjadi air tawar. Itu alasan mengapa lebih baik menempuh perjalanan haji dengan berjalan kaki daripada mengendarai kuda, dan lebih baik mengendarai kuda daripada naik mobil, dan lebih baik naik mobil daripada naik perahu, dan lebih baik naik perahu daripada naik pesawat terbang.”
Walau mereka terlihat tak menyukai satu sama lain, tapi di hati terdalam mereka ada kasih sayang anak dan orang tua. Terbukti saat mereka dihadang oleh badai salju. Bermalam di mobil, keesokan harinya Reda menyadari bahwa mobilnya tertimbun salju. Reda membangunkan Ayahnya yang masih tertidur. Ayah tak kunjung bangun karena demam. Sekuat mungkin Reda menghancurkan es yang menyelimuti mobilnya dan membawa ayah ke rumah sakit. Reda benar-benar khawatir terjadi sesuatu pada Ayahnya.
Ketika sang Ayah sehat kembali, dia meminta perjalanan dilanjutkan. Di urusan bea cukai, mereka bertemu Mustafa. Seorang laki-laki yang membantu mereka berkomunikasi dengan pihak pabean. Mustafa pun ikut menumpang dengan alasan ingin naik haji. Ayah menyuruh Reda berhati-hati dengan Mustafa. Tapi, Reda justru percaya dengan Mustafa karena kehadirannya menawarkan sikap yang hangat. Mustafa bisa menjadi teman ngobrol yang baik untuk Reda. Secara terbuka, Reda menceritakan tentang Lisa, seorang perempuan yang disukainya di sekolah. Lisa bukan seorang muslim, dan Reda menutupi hubungannya dengan Lisa dari keluarganya. Terlalu percaya pada Mustafa, Reda pun mau saja saat diajak mabuk-mabukan, ketika Ayah tidur di penginapan. Paginya, Ayah membangunkan Reda, memberi tahu bahwa Mustafa tak ada di kamar dan uang bekal mereka raib.
“Kenapa pergi ke sana menjadi begitu penting? Mengapa Mekah begitu istimewa?”
“Kita sudah sampai sejauh ini dan kini kau baru tertarik menanyakannya?”
“Haji itu penting. Ia adalah rukun Islam yang kelima. Semua muslim yang mampu, harus melaksanakannya sebelum mereka meninggal untuk mensucikan jiwa mereka. Kita semua pasti mati nantinya. Kita hanyalah tamu di bumi ini. Satu-satunya yang Ayah takutkan ialah meninggal sebelum melaksanakan kewajiban. Dan, tanpamu Ayah takkan pernah bisa berhasil.” 
Perjalanan dilanjutkan dengan sisa uang yang sedikit. Perdebatan kembali mewarnai perjalanan mereka hingga membuat Reda marah. Di gurun pasir, Reda berniat meninggalkan Ayahnya sendirian, tak mau lanjut mengantar naik Haji. Ayahnya menyusul, memberikan tawaran bahwa Reda akan pulang setelah mereka sampai di kota. Mobil akan dijual, Reda bisa pulang naik pesawat. Ayah akan memlanjutkan perjalanan seorang diri dengan berjalan kaki. Tak tega, Reda pun akhirnya mau mengantar Ayah kembali. Sifat Ayahnya yang luluh itu, membuat Reda mulai luluh juga. Reda mulai bertanya tentang ajaran agama yang dijalani sang Ayah. Perjalanan dilanjutkan hingga sampai ke Mekkah. Reda berhasil mengantarkan Ayahnya Haji. Tapi, Ayahnya tak kembali. Film ditutup dengan tangisan Reda. Tangisan menyesakkan dada, penyesalan seorang anak yang terlambat menemukan kasih sayang untuk ayahnya.
“Ayah banyak belajar dari perjalanan ini.”
:”Begitu juga aku.”
Film ini membuat saya banjir air mata, terutama pada bagian akhir. Sekaligus membuat saya belajar untuk tidak terlambat dalam menyayangi orang tua. Deskripsi hubungan anak-ayah di film ini sangat mengena di hati. Perbedaan prinsip hidup, pendapat, karena hidup dan tumbuh pada jaman yang berbeda menjadi dasar ‘ketidakcocokan’ orang tua-anak. Di film ini, semua itu dikemas apik dan dekat dengan penonton, sehingga saya (sebagai seorang anak) yang menonton pun mengamini semuanya. Kemudian, di akhir film, hati kita dipukul dengan penegasan bahwa semua ketidakcocokan itu bukanlah apa-apa karena sebenarnya yang terbesar adalah kasih sayang. Saya memberikan 5 bintang penuh untuk film yang sangat menyentuh ini.

Rate: 5/5

*sumber gambar: google            
  

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers