#Renungan24: Tentang Berhenti

sumber gambar: google


Beberapa waktu lalu, aku membaca tulisan seorang teman. Tentang dia yang belum “beranjak”, sementara orang-orang di sekitarnya sudah berjalan ke ini-itu (baca: menikah, punya anak, peningkatan karir, dan lain-lain). Darinya, aku tahu bahwa selama ini yang kulakukan adalah berhenti.
Setelah lulus, aku bekerja freelance di sebuah bimbingan belajar. Sambil berharap ada perusahaan atau sekolah yang menghubungiku. Tahun pertama, aku masih memasukkan lamaran kerja ke mana-mana. Tapi tak ada yang nyangkut. Akhirnya, aku berhenti dan menerima diriku sebagai pekerja freelance.
Di awal kelulusan, aku juga punya sebuah mimpi untuk melanjutkan study. Berusaha mengejarnya, tetapi kadang aku mengesampingkannya. Karena ada prioritas hidup lain yang perlu kuurus. Hingga aku tiba pada sebuah simpulan bahwa suatu saat nanti aku akan mengejar impian itu lagi. Sekarang aku akan berhenti sejenak karena ada hal lain yang perlu kupikirkan.
Keputusan yang kubuat untuk berhenti ternyata menyakiti diriku sendiri. Saat melihat teman-teman yang menjelajah dunia luar, betapa aku merasa seperti katak yang memutuskan untuk tetap di dalam tempurung. Enggan keluar, memutuskan berhenti di dalam sana karena merasa nyaman. Padahal, ada banyak hal yang terlewatkan. Ada banyak hal yang kuimpikan dan seharusnya bisa kuraih asal aku tidak berhenti. Ada banyak hal yang mungkin saja bisa kuraih jika aku tetap bergerak.
Dua tahun lebih aku berhenti. Bertahan sebagai pekerja freelance, menikmati ketidakjelasan yang sama sepanjang tahun, menikmati kegelisahan yang sama setiap hari. Dua tahun lebih aku tidak berani mengambil keputusan. Sudah tahu ingin bergerak ke arah yang lebih baik, tapi yang kulakukan justru berhenti. Ternyata ini menyakitkan. Ya, berhenti adalah salah satu hal yang paling menyakitkan.
Dari rasa sakit itu, aku memutuskan untuk beranjak. Mungkin ada yang bilang sudah terlalu terlambat. Sesuatu yang sudah dijalani selama dua tahun lebih biasanya akan menjeratmu seperti sumur yang terlanjur diceburi. Kita akan susah beranjak. Tapi aku sudah tahu bagaimana sakitnya berhenti selama itu. Bagiku, lebih baik beranjak dengan kesusahan setengah mati daripada tetap berhenti. Maka, di akhir tahun ini, aku akan mengambil keputusan yang sudah kutunda selama dua tahun lebih. Karena aku sudah tidak punya waktu lagi untuk berhenti. Aku tidak punya pilihan lain selain terus bergerak dan beranjak.

*ditulis untuk #1minggu1cerita

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers