Menikah Bagiku...

*dari kacamata seorang perempuan jomblo idealis

Suatu kali, saat seorang teman menikah, aku ikut berbahagia dan mengucapkan selamat padanya. Dia pun berterima kasih dan melanjutkan dengan kalimat, “yang sabar ya, Put. Jodohmu pasti akan segera datang dan kamu akan bahagia.” #hmmm
Di kesempatan lain, saat seorang teman sedang bahagia atas lahirnya seorang anak, aku pun mengucapkan selamat. Dan, jawaban yang kudapatkan, “seneng loh, punya anak. Seru juga. Makanya, kamu jangan kelamaan. Cepetlah nikah dan punya anak, biar bahagia.” #hmmm2
Dua keadaan itu, membuatku ingin lempar sendal. Hahahaha.
Di mata kedua temanku, mungkin menikah dan punya anak adalah satu-satunya tujuan hidup. Pencapaian tertinggi atas hidup yang sudah dilaluinya. Prioritas hidup yang harus segera dilaksanakan. Atau mungkin satu-satunya jalan untuk meraih kebahagiaan yang hakiki. Aku sama sekali tidak keberatan dengan pilihan hidup mereka. Maka, aku selalu mengucap selamat dan ikut berbahagia atas mereka yang merasa sedang berada di puncak kebahagiaan hidup.
Tapi dua jawaban yang mereka berikan kadang membuatku geram. Jawaban mereka seolah menyudutkanku pada tempat “orang-orang yang menderita karena belum menikah”. Ini kan cukup mengesalkan. Dulu, saat kesal, pernah terbersit pernyataan-pernyataan semacam: emang aku seneng punya pernikahan yang terlalu lebay (sering umbar kemesraan di media sosial) macam kalian? no, emang aku seneng punya suami pengetahuan cupet, yang seenaknya sendiri, tanpa dasar apa pun ngelarang-ngelarang istrinya bepergian walau itu untuk kebaikan/kebahagiaan? no, emang aku menginginkan rumah tangga cupet (dalam artian makna kehidupan) macam kalian? no.
Mereka menyamaratakan hidup orang lain dengan hidupnya. Dengan sempitnya, menerapkan tolak ukur kebahagiaan seseorang di usia matang adalah menikah, pada semua orang. Padahal kan, tidak semua orang berpikir seperti itu. Aku bahagia dengan apa yang kujalani sekarang. Bisa menulis tentang apa pun tanpa takut persepsi atau reaksi pembaca, bisa makan apa pun tanpa takut gendut, bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan persoalan yang terlalu pelik, bisa membelikan emakku sebungkus nasi rawut depan Perumahan Megawon yang enak, bisa mengajari ponakanku nulis cerita, bisa berbagai sesuatu pada orang lain, dan bisa-bisa lainnya yang masih banyak lagi. Intinya, aku bahagia dengan melakukan apa pun yang kuinginkan.
Prioritas utama hidup seseorang dengan orang lain juga berbeda. Maka, aku menghormati mereka yang memprioritaskan menikah dalam hidupnya. Menginjak usia 20-an lebih dikit, kemudian menikah. Silakan, aku sama sekali tidak terganggu dengan itu semua. Tapi aku tidak berminat mengikuti jejak kalian (yaiyalah mbak, enggak punya calon juga. hahaha). Setidaknya, prioritas utamaku yang sekarang bukanlah menikah. Masih banyak catatan impian yang kuangankan untuk tercapai.
Pencapaian tertinggi di benak sejuta umat manusia juga beda-beda. Kalau bagi orang lain pencapaian tertinggi adalah menikah-punya anak-punya anak lagi-punya rumah-dan seterusnya, ya tidak ada salahnya. Aku sama sekali tidak menyalahkan atau keberatan. Jadi ya jangan menyalahkan kalau di benakku pencapaian tertinggi berbeda dengan kalian. Karena aku—ehm, mungkin ini terlalu naif—ingin bermanfaat untuk orang lain, walau sedikit saja.
Di kepalaku, menikah bukanlah pencapaian tertinggi atau prioritas utama hidup, melainkan satu fase kehidupan yang suatu saat akan dijalani. Sama seperti bersekolah, beranjak dewasa, dan menjadi tua. Bedanya, menikah lebih serius daripada mulai masuk sekolah. Dan, sesuatu yang lebih serius harus dipikirkan-dipersiapkan dengan serius pula. #apasih
Tentang diri sendiri yang sudah siap menikah secara lahir dan batin. Tentang karakter ‘si partner’ yang benar-benar akan bersamamu seumur hidup. Dan, tentang keberlangsungan rumah tangga nantinya. Itu perlu dipersiapkan. Coba saja, kalau mental belum siap. Jangan-jangan setelah menikah, kerjaannya cuma update status di media sosial tentang kemesraan dengan suami yang sebenarnya tak perlu diketahui publik. Perkara mengurus rumah, menghadapi konflik-konflik rumah tangga, ternyata belum terampil. Bagiku, ini butuh persiapan lebih. Kalau kalian tidak berpendapat sepertiku, ya tidak apa-apa.
Orang lain memang tidak perlu tahu tentang semua idealismeku dan pemikiranku tentang menikah. Aku juga tidak perlu tahu itu semua di mata orang lain. Kita hanya perlu saling menghormati. Kalau nyatanya tidak bisa, aku yakin orang-orang yang “menghakimiku” sebenarnya bukanlah orang dekat, bukanlah orang yang punya rasa sayang.
Karena yang dekat denganku, biasanya tahu apa tujuan hidupku, apa makna pernikahan bagiku. Dan, orang yang sayang padaku, akan menghargai apa pun yang ada di kepalaku, sekalipun itu berseberangan dengannya.


0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers