Penyebab dan Tips Budaya Konsumtif

Kebetulan sekali, kemarin aku nonton video tentang harapan. Sekelompok orang, masuk ke dalam ruangan luas dengan sejumlah balon di tangan. Sebuah suara menggema ruangan, memberi instruksi. 

Apabila keinginan yang suara itu sebutkan adalah keinginan para pemegang balon, maka mereka harus melepaskan satu balon. Ada banyak daftar keinginan yang akan disebutkan oleh sumber suara. Maka, para pemegang balon harus melepaskannya satu per satu hingga balon di genggaman habis.

Pernyataan awal yang sumber suara itu sebutkan masih seputar hal-hal ringan. Misal, membelikan ponakan mainan, jalan-jalan saat liburan, dan lain-lain. Orang-orang mulai melepaskan satu per satu balon dengan senyum lebar.

Lama-lama, balon di genggaman mulai berkurang. Bahkan ada yang habis. Padahal masih banyak pernyataan yang masih diungkapkan sumber suara. Dan, pernyataan itu termasuk hal yang lebih penting dari pernyataan sebelumnya. Misalnya saja, menabung untuk pendidikan anak, pernikahan, hingga mengajak orang tua melakukan perjalanan spiritual--bisa diartikan naik haji bagi muslim.

Senyum mereka yang awalnya lebar mulai surut. Mereka yang telah kehabisan balon berharap masih punya beberapa balon untuk dilepaskan pada keinginan penting seperti itu. Sayangnya, mereka telah menghabiskannya tadi.

Nah, keinginan untuk belanja juga demikian. Saat punya banyak uang, maka daftar belanjaan tiba-tiba saja bertambah panjang. Karena yang ada dipikiran hanyalah apa yang diinginkan saat itu. Bukan rencana jangka panjang. Saat uang mulai menipis, barulah ada rasa sesal. Berharap masih ada sejumlah uang yang tersisa untuk sesuatu yang lebih penting.

Secara kebetulan lagi, aku pernah nulis tentang tips mengerem keinginan belanja di sini. Barangkali bisa menjadi solusi untuk beberapa orang.


*postingan ini dibuat untuk 1minggu1cerita dengan tema budaya konsumtif


0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers