#Renungan24: Ruang Untuk Mereka yang Berbeda



Saya punya seorang teman yang berbeda. Seorang perempuan yang juga satu kampung dengan saya. Dulu, kita satu SD dan pernah sekelas. Kita satu kelas hanya dua tahun, karena dia menjalani masa SD dua kali lipat dari kita semua. Dia duduk di bangku SD selama dua belas tahun. Alasannya, karena dia berbeda. Para guru sudah menyarankan kepada orang tuanya sejak awal, untuk memasukkan dia ke SLB (Sekolah Luar Biasa) saja. Tapi, keluarganya tidak mampu. Bapak dan ibunya memilih menerima keputusan pihak sekolah. Paling tidak, anaknya bisa baca-tulis-hitung dan mendapatkan kehidupan seperti anak seusianya—pagi hari sekolah, bermain, belajar dan berteman.

Perbedaan utama antara kita dengan dia ada pada segi mental. Pola pikirnya masih seperti anak kecil. Dia juga susah menalar pelajaran yang diberikan. Walau dia sudah tinggal kelas dan mengulang pelajaran, tapi dia tetap tidak bisa. Nilainya tetap jelek. Dari segi fisik, dia lengkap seperti kita. Hanya saja, waktu SD dia menderita sebuah penyakit kulit yang lumayan parah. Itu membuat teman-teman sekelas enggan dekat dengannya. Bahkan siswa laki-laki selalu menjahilinya hingga dia menangis. Padahal, dia orang yang baik dan rajin. Guru-guru sering memanfaatkan dia sebagai “tenaga bersih-bersih” jika dibutuhkan. Misal saja saat akan ada rapat, dia diminta membantu menyiapkan ruangan. Kalau piket, dia juga sering dimanfaatkan oleh teman satu grup piket. Karena dia memang telaten soal bersih-bersih dan merapikan sesuatu. Hasilnya pun sudah jelas bagus.

Sudah lama sekali—sejak saya dan teman-teman meninggalkannya di kelas 4 SD—tidak mendengar kabarnya. Tapi, kemarin ibu saya bercerita tentang dia dan membuat saya berpikir jauh.

Sekarang, dia sudah yatim-piatu. Dua kakak perempuannya sudah menikah. Dia tinggal di rumah dan mengurus adik laki-lakinya. Adik laki-lakinya ini juga berbeda. Tidak hanya tertinggal secara perkembangan mental, tapi juga secara fisik. Usia adik laki-lakinya hampir sama dengan saya, tapi dia tidak bisa berbicara secara jelas dan tidak bisa menulis. Adik laki-lakinya juga menuntaskan sekolah dasar selama dua belas tahun. Dulu saat sekolah, teman perempuan saya yang kurus itu memboncengkan adik laki-lakinya yang gemuk dan selalu tersenyum lebar. Sekarang, dia harus merawatnya karena kedua kakak perempuannya seolah lepas tangan. Kedua kakak perempuannya cantik-cantik dan menikah dengan laki-laki mapan. Salah satunya masih sedesa, tapi tetap jarang mengunjunginya.

Sepeninggal ibunya beberapa bulan lalu, teman saya itu mulai berjualan makanan di sebuah sekolah dasar. Sore hari, dia berjualan roti, keliling kampung. Suaranya lantang mempromosikan roti sepanjang jalan. Di dekat sekolah tempatnya berjualan, ada sebuah puskesmas kecil yang kurang memadai. Hanya ada seorang dokter yang praktik di hari-hari tertentu saja. Dokter ini memberikan nomor handphonenya pada teman saya itu. Supaya dia dihubungi saat ada pasien yang menunggunya. Beberapa hari kemudian, dokter itu bercerita pada beberapa pasiennya bahwa teman saya selalu menghubunginya. Dia menelepon dokter itu kemudian memutus telepon saat sudah diangkat. Berulang-ulang begitu. Dokter itu berkata, “yasudah, orang ‘tidak lengkap’ begitu, dimaklumi saja.” Perkataan ini yang membuat saya berpikir jauh.

Saya bertanya pada diri sendiri, sebenarnya di mana tempat orang-orang berbeda ini di mata kita? Apa sebatas pemakluman atas kekurangan dan perbedaan? Apa sebatas rasa iba? Atau kita bisa memberikannya sebuah ruang untuk membuatnya hidup seperti kita dengan caranya sendiri?

Dulu, tidak ada yang mau satu kelompok dengannya. Guru biasanya memasukkan dia ke kelompok saya. Karena saya mau menerima dia sebagai anggota kelompok. Tapi, saya baru sadar sekarang, jika dulu saya “meremehkan” dia. Saya tidak memberinya porsi mengerjakan tugas utama. Beranggapan bahwa akan lebih baik jika kita saja yang bekerja, dan dia hanya membantu sedikit. Baru terpikir sekarang, bahwa sikap saya dulu adalah suatu bentuk tidak memberinya ruang untuk hidup sama seperti kita.

Lalu, apakah kita dan dunia bersedia memberinya sebuah ruang? Atau tetap bersikap sebatas iba.

*ditulis untuk #1minggu1cerita



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers