#Renungan24: Jer Basuki Mawa Beya



Jer basuki mawa beya
Setiap keberhasilan membutuhkan pengorbanan/biaya.
         
Sejak Sekolah Dasar, saya sudah mengenal ungkapan tersebut. Sebagai peribahasa dalam mata pelajaran Bahasa Jawa. Tapi, dulu saya tidak pernah memilih kata 'biaya' sebagai arti. Walau beya dalam Bahasa Jawa berarti biaya. Saya lebih menyukai kata pengorbanan. Bagi saya, kata itu lebih mewah dan istimewa. Pengorbanan hanya bisa dilakukan, diperjuangkan dan diraih oleh diri sendiri. Berbeda dengan uang yang bisa saja ditebus oleh orang lain. Beberapa orang terlahir sudah dikelilingi banyak uang. Kekayaan turun-temurun. Tidak perlu berjuang untuk mengeluarkan uang. Jika keberhasilan bisa ditebus oleh uang, maka ada yang tidak perlu memperjuangkan dan menempa diri. Hanya perlu mengeluarkan uang kemudian sukses.
Kemarin, saya mulai berpikir ulang. Biaya juga berpengaruh dalam kesuksesan seseorang. Itu yang menghujam dada dan pikiran saya, ketika membaca persyaratan beasiswa LPDP untuk study ke luar negeri.



Skor ielts atau ibt diwajibkan bagi setiap yang punya mimpi belajar ke luar negeri dan ingin dibantu negara. Saya rasa, semua orang bisa berjuang untuk meraih skor yang ditargetkan. Mengikat tali di kepalanya hingga larut. Terjaga hingga batas malam dan pagi sudah samar, demi sebuah impian. Tapi, tidak semua orang bisa melakukan tes ini. Biaya tesnya saja hampir 3 juta, untuk satu kali. Usaha untuk belajar saja tidak bisa memenuhi persyaratan beasiswa. Butuh biaya juga untuk meraihnya.
Syarat mendapatkan LoA diawal juga tidak bisa diraih hanya dengan bekal nilai. Ada biaya yang perlu dikeluarkan. Apalagi untuk mendaftar ke universitas luar negeri. Tidak sedikit biaya yang diperlukan. Dan, itulah yang harus dilakukan jika memang ingin impiannya terwujud dengan bantuan negara.
Beberapa orang merasa ini wajar dan setimpal. Mengingat bantuan negara yang tidak main-main jika sudah mendapatkannya. Tapi, beberapa orang merasa ini “tidak adil”. Keadaan setiap orang berbeda, tidak bisa disamakan. Ada yang terbatas ekonomi, akses belajar dan lain-lain. Setiap orang punya keterbatasan yang berbeda. Lalu, siapa yang akan membantu melampaui keterbatasan itu jika pihak yang mengulurkan tangan hanya mau terima beres?
Barangkali ada yang berpendapat, jika tidak mampu melampaui syarat itu, kenapa impiannya tidak diturunkan saja? Kasarnya, jika tidak mampu lanjut S2, kenapa tidak bekerja saja? Atau jika tidak mampu memenuhi syarat untuk kuliah di luar negeri, kenapa tidak menurunkan impian jadi kuliah di dalam negeri saja? Tidak perlu terlalu memaksakan diri dan menyalahkan yang sudah mau membantu. Mungkin saja orang-orang yang berpendapat seperti itu lupa kalau sewaktu kecil diajari untuk bermimpi setinggi langit. Bermimpi tanpa perduli dengan keterbatasan dan latar belakangnya.
Sementara syarat itu secara tidak langsung memberikan klaim bahwa hanya yang mampu memenuhi syarat itu saja yang diterima. Hanya yang tidak punya keterbatasan dalam hal-hal tertentu saja yang diterima.
Pihak yang membantu mungkin kurang mempertimbangkan bahwa seseorang bisa saja terbatas ekonomi, terbatas akses belajar. Lupa bahwa seseorang mungkin saja terbatas dalam hal-hal tertentu tapi tidak terbatas pada tekad dan semangat. Sayangnya, indikator tekad dan semangat bukanlah hal sangat penting di mata mereka.
Tapi, saya yakin masih ada orang-orang yang memaknai pepatah jawa itu sebagai perjuangan dan kerja keras. Tentang semangat, tekad, perjuangan dan pengorbanan.

Dan, saya yakin, walau manusia tidak memberi jalan pada orang-orang yang terbatas, Tuhan akan selalu memberi jalan bagi orang-orang yang berusaha. Tuhan akan selalu memberi jalan pada orang-orang yang bekerja keras dan berusaha membuka jalan lewat doa.




0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers