#Renungan24: Dunia di Mata Mereka dan Saya


Beberapa waktu lalu, di akhir sesi mengajar les suatu kelas, kita berbincang tentang masa depan dan dunia. Saya dan kelas, memang suka berbincang tentang banyak hal di sela-sela atau akhir mengajar. Temanya bermacam-macam dan biasanya berbeda antar kelas. Anggap saja ini sebagai refreshing untuk mereka yang dari pagi dijejali pelajaran di sekolah dan sepulangnya belajar lagi di tempat les.

Awalnya, mereka menanyakan tentang memilih jurusan yang tepat untuk kuliah. Mereka bingung akan ke mana setelah lulus sekolah. Saya hanya menyarankan untuk pergi ke mana saja yang mereka inginkan. Tapi, jawaban mereka justru mengejutkan saya. Mereka berpikir, jalan mana yang harus dipilih setelah lulus kuliah agar bisa sukses kelak. Agar mereka bisa hidup sejahtera di masa depan. Bahkan mereka bertanya kepada saya, siapa teman yang sudah sukses, apa profesinya dan berapa pendapatannya.

Ada juga seorang anak yang jalan hidupnya sudah dituliskan oleh orang tua. Orang tuanya bekerja di suatu perusahaan. Maka, dia diarahkan untu mengambil jurusan tertentu agar setelah lulus kuliah bisa direkrut oleh perusahaan itu. Dia berpendapat bahwa itu sama sekali bukan masalah walau agak bertentangan dengan dirinya. Karena masa depannya sudah dijamin, tidak luntang-luntung cari kerja seperti orang lain. Dia merasa senang dan tidak perlu pusing memikirkan tentang karir. Tinggal dijalani saja sesuai jalan yang sudah ditunjukkan oleh orang tuanya, maka masa depannya akan terjamin.

Salah satu siswa kemudian berbicara tentang “koneksi”. Keluarganya bilang, jalan pekerjaan akan mudah jika ada seseorang yang bisa membawanya menduduki suatu jabatan. Membantunya mendapatkan sebuah pekerjaan. Fase seleksi dan kemampuan diri hanyalah omong kosong. Karena peluang besar diterimanya seseorang, diangkatnya jabatan seseorang, ada di tangan koneksi.

Saya terkejut mendengar apa yang mereka bicarakan. Dulu, saat saya masih SMA, tidak pernah ada pikiran tentang koneksi kerja terlintas di kepala. Saya tidak pernah mendoktrin pikiran dengan hal semacam itu atau didoktrin oleh orang lain. Mungkin saya yang terlalu polos. Tapi, saya bersyukur karena masih disertai dengan pikiran baik. Pikiran yang membawa saya pada pemahaman baik ketika saya sudah beranjak dewasa seperti ini. Ketika saya menemukan sendiri tentang koneksi—di beberapa tempat—yang benar adanya, saya tidak lantas mengikuti jalan itu. Sekalipun gaji saya tidak seberapa, tapi saya tidak berpikir untuk mencari koneksi untuk meningkatkan karir. Begitulah pemahaman baik yang saya maksud.

Obrolan saat itu juga membawa saya pada rasa miris. Ternyata sebatas itu para remaja jaman sekarang memandang masa depan dan dunia. Hanya tentang bagaimana membuat hidup mereka nyaman dan sejahtera suatu saat nanti. Hanya tentang masa depannya yang sukses. Kurang peduli pada menjaga nilai-nilai kebaikan. Justru mengesampingkannya, dan mungkin suatu saat nanti memudarkannya secara turun-temurun. Tidak berpikir tentang luasnya dunia yang bukan hanya soal hidup sejahtera di sebuah rumah besar. Benar saja jika mereka ingin hidup nyaman dan enak suatu saat nanti. Tapi, tanpa melupakan ada hal lain di dunia ini, selain memperbesar lumbung tabungan pribadi. Kurang berpikir tentang kekuasaan Tuhan. Mereka lebih realistis daripada percaya pada jalan mengejutkan yang tiba-tiba dianugerahkan.

Saya tidak tahu dari mana pikiran itu muncul di kepala mereka. Dari orang tua di rumah, guru di sekolah, atau dari apa yang mereka temukan. Saya rasa, jika orang-orang tersebut ingin sesuatu yang lebih baik untuk dunia ini—untuk dirinya juga, dan tidak hanya untuk dirinya sendiri—seharusnya mereka mulai memberikan cara pandang dunia yang lebih luas pada remaja-remaja itu. Agar dunia di mata mereka lebih luas dan bernilai baik. Dan, agar mereka meneruskan cara pandang dunia yang lebih luas dan bernilai baik itu secara turun-temurun kelak.

Sebagai seorang yang ingin hal baik terjadi hingga beberapa masa ke depan, saya hanya bisa membagikan cara pandang diri sendiri terhadap masa depan dunia kepada mereka. Memang tidak banyak yang bisa saya lakukan. Mereka bertemu dan mendengarkan saya hanya seminggu sekali. Sementara berada di tempat lain lebih sering dan lebih lama. Tapi, saya tetap memberitahu mereka bahwa saya merasa sukses ketika bisa membantu belajarnya dan memecahkan masalahnya. Saya merasa sukses ketika mereka bilang tidak sabar bertemu saya untuk belajar bersama dan berbagi cerita-cerita baik tentang dunia. Dan, saya merasa sukses ketika apa yang saya sampaikan pada mereka dari hati, bisa sampai di hati mereka pula. J
                                              
“Penulis yang sukses adalah penulis yang mampu menggerakkan pembaca untuk melakukan hal-hal yang luhur dan baik, setelah ia membaca bukunya”—Andrea Hirata.

Maka, bolehkan saya merasa sukses ketika bisa mengerakkan siswa untuk memandang dunia dengan luas, baik dan luhur?  J


*foto diambil saat saya berulang tahun 

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers