Patah Hati Pertama



I can wipe the tears in my eyes. But I can’t wipe the pain in my heart—Anonymous

Kemarin, saya teringat dengan luka di masa lalu, lewat luka seorang anak yang belum genap tiga tahun. Dia mengalami patah hati pertamanya, seperti saya dulu.
Setiap pagi atau sore, dia sering diajak berkeliling kampung oleh Ayahnya dengan motor. Dia di depan, dipegang oleh Ayahnya. Itu adalah kebahagiaan untuknya. Saat motornya tidak dipakai, dia juga senang naik di bagian depan sembari berimajinasi sedang mengendarai motor. “Ngeeenggggg... tin tin...”, kata-kata itu selalu keluar dari mulutnya saat duduk di motor.
Tapi, sekarang dia tidak bisa melakukannya lagi. Sudah beberapa minggu ini motor itu tidak berada di rumah. Orang tuanya terpaksa menjual motor karena kesulitan ekonomi. Motor itu dijual pada saudaranya sendiri. Ketika saudara itu berkunjung, dia—anak perempuan yang belum genap tiga tahun itu—selalu memandang lama ke motornya. Tidak berani bertanya apa itu motornya yang dulu, atau meminta motor itu tidak dipakai. Dia hanya melihat lamat dengan sorot kesedihan. Saya dan anggota keluarganya selalu ikut merasa sedih saat melihat kesedihan tak teruangkapkan di matanya. Dan, saya juga teringat dengan kesedihan serupa yang pernah saya alami waktu kecil.
Saat kelas 2 SD, teman-teman saya punya sepeda baru. Mereka sering bersepeda di pagi hari saat libur sekolah dan sore hari. Saya tidak bisa melakukannya karena tidak punya sepeda. Saya benar-benar menginginkan sepeda saat itu. Dan, akhirnya saya mendapatkannya saat duduk di kelas 3 SD. Sepeda second-hand yang Bapak beli dari pasar. Saya sangat bahagia.
Tapi, kebahagiaan saya hanya sementara. Saya lupa kapan tepatnya, mungkin satu atau dua tahun setelahnya, sepeda itu dijual. Karena keluarga sedang kesulitan ekonomi, sepeda saya dijual pada seorang tetangga. Orang tua saya hanya bilang kalau sepeda saya sedang digadaikan. Tapi, tepat setelah itu, saya melihat seorang tetangga mengendarai sepeda itu. Saya tidak bertanya apa-apa pada Bapak dan Ibu. Saya hanya menatapnya lamat, dan berkata bahwa itu memang sepeda saya. Sepeda yang selalu menemani kebahagiaan saya.
Itulah patah hati pertama saya. Sampai sekarang, selalu ada perasaan aneh di hati (semacam sedikit kesedihan), saat melihat tetangga itu mengendarai sepeda. Sudah sepuluh tahun lebih, tapi luka di hati saya, perasaan sedih saya yang dulu, tetap ada walau sedikit.

*tulisan ini untuk #1minggu1cerita


4 komentar:

  1. Duh, sedih aku bacanya, Put. Patah hati pertama emang bikin nyesek :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan jual sepeda Zahir ya, Tan~ :')

      Hapus
    2. Jangan jual sepeda Zahir ya, Tan~ :')

      Hapus
  2. Kebayamg rasanya jadi si anak itu.. Patah hati emng ga enak..hiks..

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers