Bertemunya Perbedaan pada Sebuah Kelas



Saya tidak tahu, siapa yang harus bertanggung jawab ketika seorang siswa gagal beradaptasi di sebuah kelas baru.
Tahun kemarin, saya sempat dipertemukan dengan seorang siswa yang bisa dibilang unik. Tingkah laku dan pola pikirnya berbeda dari teman-temannya. Ah, iya, saya ingatkan lagi. Saya hanya mengajar di sebuah bimbingan belajar (selanjutnya sebut saja bimbel), bukan di sekolah. Tapi, bimbel ini memiliki sistem yang mirip dengan sekolah, dari segi pengajaran. Tidak seperti bimbel bertaraf nasional yang membuat buku panduan kemudian menggunakannya sebagai bahan ajar. Kita memakai buku yang sama dengan apa yang siswa gunakan di sekolah. Dan, biasanya, mereka yang satu sekolah atau bahkan satu kelas akan jadi satu rombongan belajar di bimbel.
Seorang anak yang saya bilang unik tadi, mengambil les mata pelajarn fisika bersama teman-teman satu kelasnya. Kebetulan, saya menjadi tutor untuk mereka. Awalnya, saya merasa “tidak senang” dengan kehadiran si anak ini.
Suatu kali, mereka semua kelelahan karena usai latihan di sekolah sampai larut. Ketika saya mengajar, mereka semua sudah sangat lelah. Saya ijinkan mereka istirahat sebentar. Kemudian, mereka meminta les diakhiri lima belas menit lebih cepat. Mereka sudah ingin pulang dan istirahat. Tetapi, anak itu protes keras. Dia tidak mau les berakhir sebelum waktunya. Bahkan dia meminta tambahan waktu karena tadi sudah terpotong sekian menit untuk istirahat. Teman-temannya hanya menahan kesal. Mereka belum begitu akrab karena baru masuk tahun ajaran baru SMA. Dan, baru satu kelas selama beberapa hari.
Pernah juga suatu kali, dia meminta materi pengajaran dipercepat. Dia merasa sudah mengerti dan tidak perlu mengulang materi itu lagi. Tapi, sebagian besar temannya belum mengerti. Saya tetap menyampaikan materi itu. Dia meminta langsung pada pengerjaan soal agar tidak buang-buang waktu. Ketika saya ijinkan dia untuk mengerjakan soal sendiri—sementara temannya saya bimbing—dia mengalami kesulitan. Saya bantu dia menyelesaikan soal itu. Dia tetap tidak mau mengaku bahwa memang belum bisa. Justru dia menyalahkan soal yang dipilih sendiri itu terlalu sulit.
Proses pembelajaran sering terhambat karena dia tidak satu tujuan dengan temannya. Sering terjadi beda pendapat tentang ini dan itu saat di kelas. Protes terlalu sering terjadi dan membuat dia terlihat “egois”.
Lama-lama, temannya mulai tidak tahan jika ada dia di kelas. Beberapa teman yang agak jahil kadang membohonginya tentang jadwal les. Mereka bilang jadwal lesnya diganti di hari lain. Padahal, tidak ada yang diganti. Ini terjadi berulang-ulang. Dan, dia mulai merasa “dimusuhi” oleh teman-temannya.
Dia merasa tidak ada yang mau berteman dengannya. Dia sering dibohongi dan dikerjai. Merasa tidak senang, dia mengadu pada ayahnya. Kemudian, ayahnya lapor pada pihak BK (Bimbingan Konseling) Sekolah. Masalah jadi semakin rumit.
Pihak BK mengira adanya “mental bullying” di kelas tersebut. Menciptakan pandangan bahwa kelas tersebut bukanlah kelas yang baik. Satu kelas pun mendapat judge yang kurang enak. Satu kelas menerima hukuman.
Mereka semakin menyalahkan dia. Menyebutnya tukang adu. Tidak mau instrospeksi. Dan, dia jadi ingin pindah sekolah.
Kalau sudah begitu, siapa yang salah? Dan, apa yang harus dilakukan?
Saya rasa, sekolah memang tidak hanya tempat menuntut ilmu. Tetapi, juga untuk latihan bersosialiasasi. Menyesuaikan diri dengan orang lain, dengan lingkungan. Supaya nanti, kalau sudah masuk ke lingkup kehidupan dengan skala lebih besar—masyarakat misalnya—dia bisa menggunakan ilmu kasat mata tentang adaptasi tersebut. Ketika seorang siswa dinilai gagal atau tidak mampu melakukan penyesuaian, maka pihak sekolah wajib membantunya. Agar dia belajar dan memperbaiki kesalahannya. Bukan “membuatnya ingin” lari ke lingkungan lain.
Dia juga tidak sepenuhnya salah. Dirinya yang dibawa ke sekolah bisa saja merupakan cerminan pola asuh dari rumah. Atau hasil dari pemikirannya terhadap sesuatu. Jika keduanya ternyata berseberangan dengan pola-pola umum yang ada, maka perlu diadakan penyesuaian. Tidak semua anak punya alarm yang langsung menyala ketika menyadari adanya hal berseberangan tersebut. Harus ada seseorang yang memberitahunya tentang itu. Dari hati ke hati. Seharusnya, ada pihak yang mengambil peranan ini di sekolah. Agar sekolah tidak hanya menjadi suatu tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tapi juga ilmu kehidupan.
Sayangnya, yang anak itu dapatkan justru pembelaan. Bersamaan dengan pelimpahan kesalahan pada kelas. Dia tidak akan belajar merasa salah dan menyesuaikan diri. Sementara kelas tidak akan belajar cara menerima si pembeda dan merangkulnya. Justru mereka semakin tidak menyukai perbedaan.
Lalu, mereka akan terlambat dewasa. Terlambat salah dan belajar. Terlambat tahu cara menyikapi perbedaan. Tidak ada tempat untuk anak-anak yang gagal beradaptasi bersama mereka. Dan, tidak ada tempat untuk seorang yang salah.
Orang dewasalah yang perlu memikirkan dan bertanggung jawab tentang ini. Karena remaja hanya pernah melewati masa bermain, bukan masa gejolak seperti yang sedang mereka alami sekarang.


*tulisan ini untuk #1Minggu1Cerita




0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers