KampusFiksi Writing Challenge #Day8: Inilah saya.



Tulislah lima fakta tentang dirimu yang berlawanan dengan opini orang lain. Wah, tema kali ini asyik! Saya cukup bersemangat dengan tema ini. Karena saya telah mendengar banyak ekspektasi orang lain tentang diri saya yang cukup berlawanan dengan diri saya sesungguhnya. Hanya karena melihat dari sesuatu yang terlihat saja.

1.    Sungguh, saya pernah pacaran, HTS, dan punya gebetan.
Mungkin karena saya kalem, tidak pernah terlihat mojok di sekolah dengan laki-laki, tidak pernah terlihat nonton bioskop atau makan dengan seorang laki-laki, maka mereka menganggap saya murni tidak pernah pacaran. Apalagi saat saya masuk ke lingkungan baru. Mereka tanpa menanyakan latar belakang kehidupan cinta saya, sudah beranggapan seperti itu lebih dulu. Di lingkungan baru kemarin, semua orang menganggap saya tidak pernah pacaran selama hidup. Satu-dua yang penasaran bertanya pada saya dengan sedikit sungkan. Saya mengalami hal semacam ini sangat sering. Mungkin saja, di mata mereka saya terlalu kalem untuk pacaran. Padahal pacaran kan tentang hati bukan tentang kalem. #eh.
2.    Saya suka laki-laki “biasa”.
Entah dari mana akarnya mereka bisa berpikir bahwa saya hanya “mau” dengan laki-laki macam ustadz. Sungguh, ini dusta! Haha! Bahkan belum pernah terlintas di pikiran untuk menyukai seorang ustadz. Mereka bahkan berpikir saya ini anti pacaran, kemudian maunya taaruf diajak nikah. Tolong jangan berpikir seperti ini hanya gara-gara saya memakai jilbab yang menutup dada dan sering mengajak kalian shalat. Pertama, saya memakai pakaian seperti ini karena saya nyaman memakainya. Kedua, saya mengajak shalat karena sudah adzan. Ini dua hal yang biasa saja. Tapi, bisa membuat kalian berpikir seperti itu. Percayalah, saya menyukai seorang laki-laki bukan karena “profesinya”. Orang baik juga banyak yang tidak jadi ustadz.
3.    Saya tak sepintar itu.
Mungkin sudah rejeki kalau murid les saya terus bertambah tiap naik semester. Mereka berpikir saya sangat jago fisika. Padahal tidak. Saya hanya menyayangi mereka dan akan berusaha memberikan yang terbaik pada mereka. Dari apa yang saya punya hingga apa yang mereka butuhkan. Jika mereka butuh sesuatu yang belum saya kuasai, maka saya akan belajar. Karena saya tahu, mereka membutuhkan saya untuk membimbing mereka. Saya juga tidak sempurna dan pernah melakukan kesalahan. Dari sana saya belajar. Saya tidak pintar, tetapi saya mau belajar.
4.    Saya tak sekeren itu.
Saya memang senang menuliskan beberapa cerita atau kalimat-kalimat yang menjadi penyalur kegelisahan. Sering saya memasangnya di akun-akun media sosial. Teman-teman yang membaca sering kagum dengan kalimat itu. Kemudian memuji saya berlebihan. Atau mengklaim saya sebagai “penulis”. Padahal, saya belum pernah menerbitkan sebuah buku. Tulisan saya belum pernah dimuat di media. Teman-teman yang berpikir saya keren, mungkin saja memiliki minta berbeda dengan saya. Hingga mereka mengatai saya keren karena melakukan apa yang mereka tidak lakukan. Percayalah, saya tidak sekeren itu.
5.    Saya tidak seratus persen “alim”.
Kalian cukup tahu saja, saya pernah pulang ke kost tengah malam. Pernah juga naik motor berdua—waktu itu dengan Farrah—dari Solo ke Jogja jam satu dini hari. Saat itu, kita sedang kembali dari sebuah acara. Saya pernah membaca karya Lisa Kleypas, Christian Simamora dan trilogi Fifty Shades of Grey. Jangan hanya melihat bahwa saya pernah membaca Ayat-Ayat Cinta atau karya Asma Nadia. Sebenarnya, saya juga tidak paham apa definisi alim yang mereka lekatkan. Tapi, saya rasa mereka perlu berpikir ulang saat membaca tulisan ini. Jika yaang mereka maksudkan alim adalah tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu.

Ya, inilah saya yang sesungguhnya. Saya bukan bidadari tanpa sayap. Saya hanya perempuan yang memakai payung saat hujan.
Mungkin mereka tidak benar-benar mengenal saya ketika beropini yang sebaliknya.


0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers