KampusFiksi Writing Challenge #Day5: 3 Film Paling Berkesan



Tema challenge hari ini, mirip dengan tema challenge lain yang saya ikuti. Saya sudah pernah menulis dengan tema serupa di sini. Jadi, saya berinisiatif untuk membahas hal lain, yang masih ada hubungannya dengan film.
Judul-judul film yang saya sebutkan pada tulisan sebelumnya, bukan termasuk jenis film “menegangkan”. Saya memang kurang menyukai film-film tragis dan genre horor. Walau saya suka serial detektif. Saya juga bukan termasuk orang yang suka dikejutkan oleh film. Justru lebih senang dengar orang spoiler atau baca review terlebih dahulu. Hahaha!
Mungkin, semua itu berhubungan dengan salah satu kelemahan saya yang tidak tahan pressure. Atau ada hubungannya dengan jantung saya yang pernah bermasalah waktu kecil. Jantung saya tidak suka debaran yang terlalu berlebihan.
Maka, saya memang menghindari film-film “ngeri”. Karena merasa tidak kuat. Ini juga berlaku untuk buku yang saya baca. Beberapa kali pernah mencoba nonton film semacam Vertikal Limit. Hasilnya, saya berhenti di tengah, tidak kuat. Dan saya tidak penasaran sama sekali dengan kelanjutan ceritanya. Padahal, biasaya termasuk orang yang sering penasaran dengan akhir sebuah kisah.
Untuk film horor, saya benar-benar tidak menontonnya. Karena film horor sering menampilkan adegan yang terlalu tiba-tiba dan mengejutkan. Saya tahu, memang itu ciri khas film horor agar mengejutkan penonton. Ditambah sound efek yang semakin memberi efek kejut pada penonton. Nah, kalau untuk sound efek film horor, saya benar-benar membencinya. Bahkan suara lebih bisa membuat jantung saya tidak nyaman.
Dulu, saat The Conjuring sedang hits, saya lebih memilih dibilang cupu daripada memaksakan diri nonton. Mendengar suaranya saja saya tidak kuat. Suatu kali, teman kost saya menontonnya bersama lewat laptop, di malam hari. Hanya saya yang tidak ikut dan berdiam di kamar. Saya memberi alasan banyak tugas. Karena biasanya, mereka yang saya beri tahu tentang problem jantung ini, tidak mengerti benar dengan keadaan. Mengatakan saya hanya beralasan untuk menutupi kecupuan dalam menonton film horor atau untuk menutupi rasa takut. Nyatanya, saya lebih berani ke kamar mandi—yang letaknya di luar, terpisah dengan rumah—seorang diri di tengah malam.
Waktu itu, malam sudah hening dan volume dipilih yang tinggi. Terpaksa telinga saya mendengar suara dari film itu. Baru sebentar, saya sudah tidak kuat, berdebar, dan rasanya ingin mencengkeram dada kuat-kuat. Maka, yang bisa saya lakukan hanyalah memasang headset, mendengar lagu, kemudian menenggelamkan kepala di bawah bantal.
Saya tidak tahu, apakah kelemahan ini bisa dilawan atau tidak. Tapi, saya semakin rela dibilang cupu atau lemah mental karena tidak berani nonton film horor—walau sedang hits. Karena saya lebih senang membuat diri ini nyaman daripada dibilang keren atau pemberani dengan satu sudut pandang saja.



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers