KampusFiksi Writing Challenge #Day4: Pertemuan Pertamaku Dengan Dia



Sebelumnya, aku kurang antusias dengan tema challenge hari ini. Aku berpikir dan mencari, tapi ternyata tidak menemukan siapa-siapa. Tidak ada yang bisa kuceritakan. Hingga aku bertanya pada teman-teman di grup. Mereka mengusulkan nama mantan. Awalnya aku berpikir tidak. Karena tidak ada yang spesial dari pertemuan di tempat fotokopi, kemudian jadian, kemudian diselingkuhi dan diwarnai drama, kemudian putus. Tapi, sekarang aku berpikir lain. Tidak hanya itu yang bisa kuambil dari pertemuan kita. Pertemuanku dengan dia adalah salah satu “trigger” perubahan diriku.
Semuanya bermula dari tempat fotokopi. Jam setengah sebelas malam, aku dan temanku harus pergi ke fotokopi untuk menjilid tugas. Karena besok sebelum jam tujuh, tugas bersama itu dikumpulkan. Kita sudah pergi ke beberapa tempat fotokopi yang masih buka. Tapi, mereka kehabisan warna cover yang kita inginkan. Sekitar tiga tempat fotokopi, semuanya kehabisan warna biru muda. Akhirnya, kita pergi ke fotokopi agak jauh, di depan rumah makan.
Beberapa menit kemudian, datang segerombolan laki-laki. Salah satunya, dia. Dia terus melihatku—ini bukan GR, karena sewaktu kita pacaran, dia bercerita kalau masih ingat baju yang kupakai saat itu. Aku juga tidak tahu kenapa. Saat itu, aku masih polos, jadi hanya bisa menunduk. Coba kalau sekarang, sudah kukasih tatapan asmara mungkin. Hhaha!
Pertemuan kedua, masih di fotokopi lagi. Ini tempat fotokopi yang berbeda dari sebelumnya. Aku sedang tergesa mencari kertas folio. Dari ujung kanan, kumasuki tempat fotokopi. Hingga empat tempat, mereka semua kehabisan. Dan di tempat terakhir, aku berpapasan dengan dia. Saling hadap-hadapan. Lagi-lagi, dia melihatku lama.
Selanjutnya, kita mulai ngobrol lewat pesan di facebook. Mudah sekali menemukan akun facebookku, karena kita satu lingkaran (satu jurusan, dan banyak temannya yang sudah berteman denganku). Beberapa waktu berjalan, kita mulai ngobrol lewat telpon hingga dia mulai berkunjung ke kostku. Standar saja sampai kita jadian. Kemudian aku diselingkuhi dan kita putus.
Sebenarnya aku tidak menyangka dia selingkuh. Dia orang yang baik dan lucu. Dia selalu membuatku tertawa lepas. Tapi, dia—yang merupakan pacar pertamaku itu—malah memberikan pengalaman hubungan cinta yang sangat drama dan menyakitkan. Sebelumnya aku memang tidak pacaran. Hanya sering HTS saja. Haha! Pernah HTS selama dua tahun dan cukup drama juga. Aku juga pernah gonta-ganti “teman dekat”. Semuanya tidak berujung pada kata pacaran. Hanya dengan dia saja aku berpacaran. Dan itu memberikan pelajaran sangat berharga. Mengubah diriku dan pandangan hidupku.
Aku akan bercerita tentang rasa sakit yang sebenarnya sudah kulupakan. Ini agak drama dan rumit. Sewaktu kita pacaran, ada satu nama perempuan yang muncul. Perempuan itu pernah beberapa kali mengirim pesan dan menelepon pacarku—saat kita sedang bersama. Aku tidak curiga, karena dia bilang hanya teman. Kemudian, perempuan itu tiba-tiba mengirimi permintaan pertemanan di facebook. Dia juga mengirim pesan. Menanyakan hubunganku dengan pacarku. Kubilang, kita pacaran. Tapi, perempuan itu bilang, pacarku mendekati dia dan mengaku jomblo.
Beberapa hari kemudian, aku kenal dengan mantannya pacarku. Aku lupa awalnya bagaimana, tapi aku mendapatkan banyak cerita darinya—aku memanggilnya Mbak. Perempuan yang mengirimiku pesan juga pernah menjadi penghancur hubungan mereka, dulu. Mbak juga memberi tahuku bahwa pacarku memang sudah sering selingkuh. Sudah penyakit. Ada beberapa nama yang dibeberkan. Setelah ku-croscek, ternyata benar. Beberapa perempuan itu memang mesra dengan pacarku.
Saat aku meminta penjelasan, hubungan kita jadi makin ruwet. Dan, pertengkaran sering terjadi. Jujur saja, aku tidak suka pertengkaran atau kalimat yang terlalu kasar. Tapi, dia mengatakannya padaku hingga kita putus. Saat itu, aku merasa sangat sakit. Hanya rasa sakit yang berminggu-minggu bersamaku.
Aku banyak berpikir dan merenung. Aku sadar, aku tak seburuk apa yang dia katakan. Sejak itu, aku terbuka dengan banyak hal. Mencoba berbagai macam hal yang kusukai atau sekedar ingin tahu. Aku mencari diriku di mana-mana. Kalau diingat, bahkan ada beberapa hal yang kucoba dan saling berlawanan.
Pandanganku tentang sebuah hubungan juga mulai berubah. Dulu, aku cepat sekali mendapatkan “teman dekat” baru jika yang lama sudah jauh. Tapi, sejak saat itu, aku memang memutuskan untuk berhenti dulu—eh, malah keterusan sampai 4 tahun, haha. Aku ingin memberi jeda untuk diriku sendiri.
Ini satu-satunya tulisan yang kudedikasikan untuk masa lalu pahitku itu. Sekalian aku mau berterima kasih atas apa yang kulalui dan bagaimana caraku melaluinya, dulu. Aku berterima kasih telah dipertemukan dengan dia dan diberi pengalaman menyakitkan. Aku berterima kasih pada diriku sendiri yang mau berpikir, merenung, berhenti sejenak dan mencari diriku yang lain. Kalau tidak, mungkin saja aku tidak akan bertemu dengan diriku yang sekarang. Padahal, aku sangat menyukai diriku yang sekarang. Pertemuanku dengan dia adalah pertemuanku dengan diriku yang kusukai.

*eh kok agak melenceng dari tema ya. Hihihi
*gambar dipilih karena si cowok tinggi, mirip dia. Hihihi


1 komentar:

  1. Wah introspektif sekali wkwk si dia kira-kira bakal baca ini nggak, Put?

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers