30DWC #Day8: Share Something You Struggle With


Ada yang bilang, semangat di awal itu sudah biasa. Mempertahankan semangat sampai akhir, baru luar biasa.
Itu yang sedang kuperjuangkan. Dan akan selalu kuperjuangkan. Terlalu banyak yang harus kusesali setiap akhir tahun. Biasanya, aku selalu membuat resolusi atau apa saja yang harus dikerjakan setahun ini, di tahun baru. Semacam proyek yang harus kuselesaikan dalam waktu satu tahun. Tetapi, di akhir tahun, aku selalu mendapati semuanya tidak tercapai. Dan aku akan menyesal.
Tidak hanya target tahunan yang meleset jauh dari target. Target-target "kecil" yang kubuat setiap bulan atau minggu juga tidak berhasil. Faktor pengganggunya hanya satu. Kemalasan. Biasanya, aku akan menggebu di awal, melempem di tengah, dan sirna di akhir. Tahun kemarin, aku punya target mengisi blog secara rutin. Tema sudah ditentukan. Minggu pertama dan kedua berjalan lancar. Minggu ketiga mulai bolong-bolong targetnya. Berlanjut hingga tidak kupenuhi sama sekali.
Dulu, waktu aku masih suka membela diriku sendiri, aku akan mengatakan bahwa aku sibuk hingga tidak bisa memenuhi target itu. Tapi, itu hanya kamuflase untuk mengurangi penyesalan. Di luar sana, ada banyak orang yang kesibukannya jauh berkali lipat dariku. Mereka tetap bisa rutin menulis di blog atau melakukan banyak hal. Jadi, sebenarnya aku ini tidak mau mengakui kalau targetku tidak tercapai karena aku malas. Sekarang, aku sudah jujur dengan diriku sendiri. Aku tidak mau berlindung dari kata sibuk lagi. Dan seperti ungkapan di atas, aku akan coba untuk mengisi semangat di awal, tengah maupun akhir.
Ada satu lagi yang sedang kuperjuangkan. Ini berhubungan dengan mindset-ku sendiri. Mungkin berhubungan dengan sifat perfeksionis.
Waktu SMA, pelajaran seni rupa di sekolah diisi dengan praktik menggambar. Menggambar garis, menggambar perspektif. Untuk menentukan garis tepinya saja, aku butuh waktu lebih dari teman-teman. Karena aku tidak mau terlewat satu atau dua milimeter dari ukuran yang seharusnya. Biasanya, guru seni rupa juga akan memperlihatkan gambar contoh. Biar kita tahu, gambar kita nantinya "kurang-lebih" akan seperti itu. Tapi, aku mengartikannya sebagai "sama dengan-lebih dari". Jadi, yang terjadi adalah aku akan mengulang gambar jika belum seperti contoh.
Sempurna atau tidak sama sekali. Mungkin lebih tepatnya begitu. Sering sekali aku sudah berencana untuk melakukan sesuatu tetapi tidak jadi dilakukan. Hanya karena kurang satu “bahan” saja. Contohnya saat aku akan mencoba resep di internet. Aku tidak jadi mencobanya kalau bahan yang kupunya tidak sama dengan resep. Padahal, bahan itu bisa saja diganti dengan yang sejenis. Tapi, aku memilih tidak melakukan karena tahu hasilnya tidak akan seperti itu. Atau, saat aku akan menulis. Aku sudah membuat kerangkanya, sudah mulai mengumpulkan bahan. Tetapi, sebelumnya aku tahu kalau tulisanku akan jadi “sampah”. Karena aku sudah membaca tulisan yang menurutku, Wow! Maka, aku tidak jadi menulis. Atau aku akan beralasan bahwa aku akan berlatih menulis terlebih dahulu selama beberapa waktu, hingga aku merasa layak untuk menulis yang itu.
Seorang teman,pernah berkata padaku bahwa, pada akhirnya, kita memang harus menulis banyak “sampah”. Aku mulai menyadari ini. Tidak ada sesuatu yang instan dan langsung enak kecuali mie instan. Temanku yang lain juga mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang dibuat manusia akan sempurna. Karena yang membuat saja tidak sempurna.
Aku berpikir kemudian menyadari bahwa mindset-ku selama ini salah besar. Meninggalkan kata sempurna adalah jawabannya. Seperti yang kulakukan di awal bulan ini. Aku sengaja ikut dua tantangan menulis setiap hari. Padahal, aku belum tahu akan menulis apa. Dan aku tahu, tulisanku tidak akan bagus. Tidak akan “berisi”. Kadang hanya curcol dengan bahasa yang kurang tertata.
Biarlah. Biarlah seperti itu. Biar aku bisa memberi tahu pada diriku sendiri, kalau membuat sesuatu yang tidak sempurna bukanlah hal buruk. Membuat sesuatu yang tidak sempurna bukanlah hal salah.



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers