30DWC #Day24: A lesson you’ve learned the hard way



Hidup ini hanya kesementaraan. Tuhan itu Mahakuasa, Tuhan itu Mahabesar. Tidak ada yang lain. Dan, berpasarah adalah salah satu usaha manusia.
Seharusnya, semua itu bisa dengan mudah saya dapatkan lewat buku pelajaran agama saat masih sekolah. Atau lewat pengajian di radio yang setiap pagi Bapak dengarkan. Tapi, saya justru belajar tentang itu semua lewat jalan yang menurut saya berat.
Satu tahun lalu, saya sakit tipus. Agak lama, sekitar dua bulan baru sembuh. Itu pun belum sembuh total. Saya tidak tahu, bagaimana awalnya bisa terkena penyakit tipus. Saat itu saya sudah di rumah. Sudah lulus kuliah. Bukan di kost.
Saya ceritakan sedikit perbandingan pola hidup di rumah dan di kost. Di rumah, saya jarang begadang. Orang tua saya pasti mengingatkan saat sudah larut. Makan tiga kali sehari dengan komposisi nasi, sayur dan lauk. Sementara di kost, saya kadang baru tidur jam 2 dini hari. Pola makan tidak teratur. Setengah sebelas malam kadang makan mie instan didampingi kopi. Dan, saya justru terkena tipus saat di rumah. Tuhan Mahakuasa. J
Sakit tipus yang saya alami saat itu, rasanya berat sekali. Dokter memang hanya menyuruh saya dirawat di rumah. Asal istirahat total di rumah, pasti sembuh. Begitu katanya. Tapi, pikiran dan batin saya justru mengalami hal yang sangat berat, pada saat yang sama.
Bertepatan dengan sakit itu, di desa saya sedang dilanda “kematian beruntun”. Seperti biasanya, di desa saya memang sering terjadi kematian beruntun. Dalam satu bulan, ada beberapa orang meninggal selang hitungan hari saja. Hampir setiap hari, saya mendengar siaran kematian di mushalla dekat rumah. Termasuk kematian Bu Lek saya sendiri.
Bu Lek memang sakit diabetes. Sudah agak lama. Tapi, setahu saya tidak separah itu. Suatu sore, beliau tiba-tiba pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Padahal paginya, beliau masih berbelanja dan memasak seperti biasa. Dua hari kemudian, beliau wafat. Kita semua terkejut. Berikutnya, tetangga saya yang hanya berselang dua rumah. Umurnya belum ada tiga puluh tahun, dan punya dua orang anak laki-laki. Keluarganya sedang berencana mengunjungi sang mertua. Karena mereka sudah lama tak berkunjung. Pagi-pagi, suaminya pergi ke rental mobil. Dia masih berbelanja, memasak dan lewat depan rumah saya, seperti biasa. Siangnya, tiba-tiba pingsan dan wafat.
Sejak itu, saya tidak pernah merasa tenang. Saya selalu was-was. Tidak bisa tidur. Saya hanya tertidur selama satu jam saja setiap malam. Kemudian terbangun karena merasa takut. Takut akan kemantian. Takut kalau saya tiba-tiba bangun dan berada di alam lain. Saya benar-benar takut.
Hingga saya mulai was-was dengan kesehatan saat itu. Suhu badan naik sedikit, saya minta periksa. Ada gejala pencernaan yang tidak beres, saya minta periksa lagi. Bahkan saya ganti dokter hingga lima kali. Saya berharap mereka menyembuhkan tipus saya waktu itu secara total. Menyelamatkan saya dari kematian. Tapi, tak satu pun dari mereka mendiagnosa sakit berlebih pada diri saya. Katanya, tipus saya sudah bersih. Padahal saya merasa masih sangat sakit.
Di dokter yang terakhir, saya menemukan jawaban yang berbeda. Katanya, tubuh dan pikiran saya tidak sinkron. Tubuh saya diperiksa dan menunjukkan tanda-tanda yang baik. Jadi, beliau berasumsi bahwa yang sakit adalah “pikiran” saya. Saya bercerita kalau sering tiba-tiba terbangun di tengah malam. Kemudian tidak bisa tidur dan tidak ingin tidur. Beliau menyarankan saya untuk shalat dan ngaji.
Sesampainya di rumah, saya menceritakan itu pada kedua orang tua. Mungkin Bapak agak paham dengan “sakit pikiran” yang saya alami waktu itu. Bapak bilang, urip kuwi kudu semeleh karo sing nggawe urip. Artinya hidup itu harus berpasrah pada yang memiliki kehidupan.
Saya bersyukur telah diberikan pelajaran itu. Saya lebih tahu siapa diri ini, dan lebih mencintai Tuhan saya.
Maafkan cerita saya yang tidak tertata dan tidak rapi ini. Saya akui, butuh energi lebih dan kesiapan untuk menceritakan ini. Lain kali, seandainya saya sudah lebih siap, akan saya perbaiki cerita ini. J

*ditulis dalam keadaan flu. Hehehehe.



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers