30DWC #Day22: Your body and how comfort you are...



Tema hari ini sebenarnya adalah “Put Your Music On Shuffle And Post The First Ten Songs”. Tapi, lagu yang saya masukkan di HP mungkin tidak ada sepuluh. Sedangkan yang ada di laptop ada ratusan dan itu bukan milik saya semuanya. Sewaktu masih ngekost, beberapa teman sering mengisi laptop saya dengan lagu-lagu favorit mereka. Jadi, saya ikut-ikutan Duo Tante (Tante Siska dan Tante Anggi) yang terkadang mengganti tema. Dan, tema kali ini inspirasinya dari postingan Tante Siska.
Tubuh saya bukanlah tubuh Angelina Joulie. Tapi, inilah tubuh yang melindungi hati saya. Tubuh yang memerangkap banyak lemak (Ha!). Dan, tubuh yang punya banyak kekurangan di bagian mulut.
Dari cerita ibu, saya tahu bahawa saat masih kecil, saya pernah terjatuh dari sepeda. Kakak laki-laki saya yang memboncengkan. Saya jatuh telungkup, bagian mulut terbentur. Entah peristiwa itu atau tidak yang membuat pertumbuhan gigi bawah saya lebih maju daripada gigi atas. Semua teman-teman punya gigi atas yang lebih menonol, tetapi saya tidak.
Tak sampai disitu saja. Saat kelas dua SD, saya punya benjolan kecil di area dalam mulut dan menempel pada gusi. Mereka menamainya semacam tumor. Saat dilakukan operasi, mereka harus mencabut dua gigi depan bagian atas. Dan, sampai sekarang hanya satu yang tumbuh. Itu membuat dereran gigi depan terdapat renggangan.
Tentu saja saya malu dan tidak nyaman. Kedua telapak tangan saya selalu menutupi mulut ketika tertawa. Saya juga tidak berani tertawa sampai terbahak lebar. Untuk foto, saya tidak pernah memperlihatkan gigi saat tersenyum pada kamera.
Masalah mulut dan gigi mungkin saja bisa dengan mudah diselesaikan jika pergi ke dokter gigi. Tapi, kedua orang tua saya bukanlah orang yang mampu untuk melakukan itu. Jadi, saya harus menerima ini semua. Tak jarang, teman-teman menyinggung tentang gigi—saat kesal pada saya.
Kalau diingat, hanya sedikit yang menyinggung perkara gigi di depan saya. Saya berpikir bahwa mungkin saja mereka yang tidak membicarakan tentang gigi, tidak ingin membuat saya sakit hati. Karena saya tidak pernah melukai hati mereka. Buat apa melukai hati saya hanya dengan “mengejek” kekurangan fisik. Pikiran itu mengantarkan saya pada pemahaman bahwa orang lain lebih menghargai hati saya daripada fisik. Jadi, saya tidak minder untuk berteman dengan mereka.
Sedangkan tentang memperlihatkan gigi saya saat tersenyum pada kamera, saya belum bisa. Rasanya tidak percaya diri.


0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers