30DWC #Day20: Post About Three Celebrity Crushes



1.    Amir Khan
Beberapa kali nonton film Amir Khan seperti Mann, sayu justru mulai menyukainya saat bermain di 3 Idiot. Aktingnya bagus. Karakter yang dimainkan juga menarik. Kemudian, saya tahu bahwa Amir Khan tidak pernah mau datang ke festival film atau penghargaan. Seingat saya alasannya mulia. Tapi, saya lupa tepatnya. Semakinlah saya menyukainya.

2.    Simon Cowell
Saya lebih mengenalnya sebagai juri di acara pencarian bakat. Dia ini bertangan dingin. Seolah punya kemampuan melihat bakat di dalam diri seseorang. Simon juga sering sekali kontra pendapat dengan teman-temannya. Dan, saya merasa satu selera dengannya. Pembawaan sifatnya yang dingin, baik hati dan humor-humor cerdasnya sangat memikat hati saya.
Pernah suatu kali seorang juri perempuan America’s Got Talent menolak seorang gadis kecil yang sedang bernyanyi. Perempuan itu mengatakan bahwa dia tidak menyukainya. Juri lain dan penonton menilai juri perempuan itu sedikit jahat pada si gadis gadis cilik. Simon saja tidak berkomentar pedas seperti biasanya, karena tahu yang dihadapinya seorang gadis cilik—ini sangat memesona!. Ketika para juri berjalan memasuki koridor ruang make-up. Juri perempuan tadi tertawa karena sesuatu hal lucu. Simon melucu ke kamera dengan mengatakan “Itulah tawa seorang iblis yang baru saja menghancurkan mimpi gadis cilik”. Hahaha!
Ketika ada seorang juri laki-laki baru di season lain yang agaknya akan kontra dengan Simon, humor Simon juga keluar. Di ruang tunggu, Simon duduk berjauhan dengan juri baru itu. Mereka sama-sama terdiam. Ketika ditanya, Simon menjawab bahwa dia sedang melakukan bonding dengan juri baru. Hahaha. Ah, saya jadi merindukannya.

3.    Dian Sastro
Saya kira sebagian besar gadis di Indonesia menginginkan bisa seperti Dian Sastro yang membaca puisi kemudian bernyanyi di film AADC. Dia juga menari di kamar dan menyanyikan puisinya sendiri. Kakak perempuan saya sampai membeli sebuah gitar saat itu. Kakak saya juga menciptakan sebuah tarian untuk lagu kesukaannya. Hha!
Saya sendiri, menyukai Dian Sasto di film itu. Tapi, lebih suka lagi ketika menontonnya di sebuah acara talkshow. Dian menceritakan kehidupan pribadinya. Tentang dirinya yang vakum dari dunia film. Dian Sastro merasa bahwa film Indonesia tidak ada yang sesuai dengan idelismenya. Jadi, dia memilih untuk berhenti dulu.
Dia juga bercerita tentang kehidupan karirnya yang benar-benar dimulai dari bawah. Dengan ijasah sarjana filsafat yang dianggap sebagian besar orang sebagai ijasah tidak laku, dia mencari kerja. Memasukkan lamaran ke mana saja. Tanpa campur tangan orang tuanya, yang mungkin saat itu bisa membantunya masuk ke perusahaan dengan mudah. Ini mengagumkan! Di saat orang-orang mengandalkan kekuatan “orang dalam”, dia justru menolak itu. Diceritakan juga bahwa dia benar-benar merintis dari posisi bawah, hingga bisa naik ke posisi tinggi di perusahaan yang menerimanya.



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers