30DWC #Day19: Discuss Your First Love



Kalau diingat, dulu aku mata keranjang sekali. Waktu SD, aku naksir dengan cowok paling ganteng satu kelas. Tapi, tidak hanya ganteng saja. Dia juga pintar dan baik. Aku tidak tahu sejak kapan mulai menyukainya. Mungkin sejak kita selalu disandingkan bersama.
Aku sering mendapat rangking satu, dan dia peringkat kedua. Sering sekali seperti itu. Wali kelas kita di kelas 3, kemudian menyandingkan kita dalam satu bangku. Jadi, di sekolahku dulu, untuk kelas satu sampai lima bangkunya panjang untuk dua orang. Bahkan muat untuk tiga sampai empat orang. Karena dulu siswa di sekolahku membludak, maka bangkunya dibuat panjang seperti itu. Kalau sekarang, hanya diduduki dua orang saja.
Kita satu bangku selama dua tahun. Karena wali kelas 4 juga memiliki ide yang sama dengan sebelumnya. Dari situlah, kita semakin dekat. Kita saling mengenal lebih jauh. Dia anak cowok paling baik dan popular di kelas. Dia rajin mengerjakan PR, piket dan pandai bergaul. Seingatku, cuma dia anak cowok yang mau berangkat lebih pagi kemudian menyapu saat piket. Anak cowok lainnya lebih senang menyerahkan tugas piket pada anak perempuan. Hanya dia juga yang rajin mengerjakan PR. Lainnya lebih sering datang lebih pagi kemudian menyalin jawaban teman. Sementara aku dan dia sudah siap dengan PR kita, kemudian saling mencocokkan jawaban. Ngomong-ngomong, kita sering sekali mencocokkan jawaban. Kita sering berdiskusi jika jawabannya berbeda. Dan, dia pandai bergaul. Dia punya banyak teman, tidak sepertiku. Sifatnya itu yang membuat popular, di kalangan anak perempuan di kelas dan lain kelas.
Aku rasa, semua anak perempuan di kelas menyukainya. Tapi, mereka tidak punya kesempatan untuk dekat dengannya seperti aku. Selain sebangku, kita juga sering dikirim untuk lomba cerdas-cermat maupun olimpiade tingkat kecamatan. Kita juga disatukan dalam satu kelompok belajar dan kelompok tugas-tugas.
Dulu, kita sama sekali tidak pernah tahu perasaan masing-masing. Kita hanya sering bersama dan cocok. Satu kelas melihat kita sebagai “pasangan”. Tapi, kita selalu mengelaknya. Apa lagi setelah tahu, bahwa ternyata kita saudara jauh. Hahaha! Ini lucu!
Jadi, aku dan dia punya silsilah dari nenek yang entah bagaimana intinya kita masih saudara. Saat masih kecil, ternyata kedua orang tua kita sering membawa kita untuk main bersama. Mungkin saat usia satu sampai tiga tahun. Karena aku dan dia sama-sama tidak ingat. Hahaha!


0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers