30DWC #Day15: Bullet Point Your Whole Day



Tanggal lima belas itu hari Minggu. Aku memang baru sempat menuliskannya setelah hari Minggu. Pun baru bisa mempostingnya di hari lain. Tapi, yang kutuliskan kali ini kegiatan yang kulakukan di hari Minggu kemarin.
Selepas subuh, aku mengunduh tutorial scrapbook. Hanya sebentar, karena waktu itu, keponakanku yang masih TK, datang dari Temanggung. Jadi, aku menemaninya makan roti bakar sisa semalam, saat dia baru bangun. Sebenarnya, Mbakku, suaminya dan keponakanku sering datang di hari Minggu ke rumah. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali. Tergantung seberapa laris dagangan (pakaian) yang dijual Mbakku. Kalau sudah habis, dia akan ke Kudus untuk menyetok barang dagangnnya. Dan, saat ponakanku datang, tidak banyak yang bisa kulakukan. Beberapa kerjaanku pasti tertunda. Karena dia akan bermain dan berulah ke seisi rumah. Tidak ada tempat yang “aman” untuk membuka laptop sekali pun. Tidak ada kenyamanan membaca—karena aku biasa membaca tanpa keributan. Tapi, kalau tidak ada dia ya, rumah sepi.
Minggu kemarin, aku lebih banyak main sama dia. Makan es krim bareng, makan kojek (aduh, namanya apa ya. Semacam bakso kecil-kecil, lebih banyak tepungnya daripada dagingnya. Haha) bareng, dan nyanyi bareng lagu-lagu yang diajarkan oleh gurunya di TK.
Agaknya kemarin aku sedikit beruntung. Karena setelah itu, dia lebih banyak bermain bola di luar rumah. Bukan nyanyi satu album Bintang Kejora, Bintang Kecil, dan lain-lain, denganku. Jadi, aku bisa membaca novel Happily Ever After by Winna Efendi, mengerjakan beberapa soal fisika di buku latihan, mengerjakan Handbook week 6 Sekolah Inggris, dan melunasi hutang menulis. Sebelumnya, aku hutang dua tulisan pada Challenge Menulis @30haribercerita di Instagram. Sungguh, Minggu kemarin aku bahagia karena bisa menulis di waktu-waktu sempit seperti itu.
Ah iya, aku juga mencuci baju, seperti biasanya. Kemudian menengok tetangga yang baru saja melahirkan anak ketiganya. Dia melahirkan seorang anak perempuan, diberi nama Zidni. Keluarganya sangat bersyukur, karena proses ini tidak mudah. Beberapa bidan dan dokter menyarankan untuk operasi. Karena sudah lewat beberapa hari dari perkiraan waktu lahir. Tapi, akhirnya proses lahirannya normal.
Malamnya, saat ponakanku sudah kembali ke Temanggung, aku mengikuti temu online Sekolah Inggris, menonton video tutorial scrapbook yang tadi kuunduh, menonton beberapa video masak, dan menonton TV. Ada satu acara dan satu segmen dari acara itu yang rasanya tidak ingin kulewatkan. Di Net, ada acara Waktu Indonesia Bercanda yang dibawakan oleh Cak Lontong. Dan segmen TTS (Teka-Teki Sulit) tidak ingin kulewatkan. Karena itu membuat diriku ikut memikirkan jawabannya. Jawaban yang melenceng dan keluar dari batas normal berpikir. Itu, asyik. Hahaha.
Ini salah satu contohnya, kuambil dari sini:


3 (mendatar) tidak boleh masuk kelas – jawaban = lalat
5 (mendatar) sayur yang enak sekali – jawaban = lodeh
4 (mendatar) kadang panas kadang dingin – jawaban –Depok
2 (menurun) Jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura – jawaban = Sudahada
5 (menurun) Binatang yang hinggap di makanan – jawaban = lapar
6 (menurun) Tak ada … yang tak retak – jawaban = beling
8 (menurun) Tidak ditemukan – jawaban = dicari

Lihat nomor 3, kalau orang normal pasti berpikir jawabannya telat. Nomor 8 juga, orang-orang akan berpikir kalau jawabannya Suramadu. Tapi, ternyata apa yang dipikirkan orang-orang salah. Hanya sedikit saja yang bisa memecahkan teka-teki ini. Namanya juga teka-teki sulit. Aku merasa ini seru dan lucu.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers