30DWC #Day10: Write About Something For Which You Fell Strongly



Sebenarnya, ada beberapa hal yang menyita “perhatian berlebih”-ku. Paling besar, ada di dunia pendidikan. Mungkin karena dunia ini dekat denganku. Yah, walau aku hanya seorang guru les di sebuah bimbingan belajar. Tapi, rasanya aku makin sayang dengan pendidikan. Makin sayang dengan siswa yang harus dimuliakan seperti seorang anak—yang dilahirkan sendiri. Anak yang dipaksa menjalankan sistem berubah-ubah oleh pemerintah.
Aku tahu, pemerintah mengganti sistem A ke sistem B atau bahkan ke sistem F dalam kurun waktu tertentu, dengan niat menjadikan pendidikan lebih maju. Berusaha menjadikan kita bisa berdiri di tangga yang sama dengan negara lain. Tapi, apakah itu yang dibutuhkan oleh seorang siswa? Aku menyaksikan sendiri, betapa frustasinya anak kelas tiga SMA sekarang. Sistem UN yang diganti dalam sekejap dan Full Day School yang akan mulai diterapkan di kotaku bulan depan. Betapa semua ini membuat mereka tertekan. Dan, apakah ini benar-benar yang dibutuhkan siswa?
Dari lima puluh lebih siswa kelas dua SMA yang kuajar, tak satu pun dari mereka tahu apa yang disukainya. Tak satu pun dari mereka tahu, apa yang diinginkannya nanti, setelah lulus. Mereka hanya tahu bahwa tugas mereka sangat banyak dan menumpuk. Semuanya harus selesai. Tak peduli bahwa yang mengerjakan PR adalah guru lesnya. Tak peduli bahwa mereka tidak merasa belajar ketika menjalankan itu semua. Mereka melakukannya karena itu harus dilakukan. Akhirnya, mereka hanya melalui materi pelajaran begitu saja tanpa mengambil “pengetahuan” darinya.
Mereka juga tidak diberi waktu untuk menemukan dirinya sendiri. Menemukan apa yang dicintainya. Menemukan apa yang diinginkannya. Dari SD-SMA, kurang lebih 12 tahun, mereka hanya tahu bahwa mereka sedang dijejali dengan banyak hal. Bukan bersenang-senang dengan apa yang sedang mereka pelajari. Bukan mengambil pengetahuan itu sebagai sesuatu berharga yang mereka punya. Setelah terima rapot, maka mereka akan merasa bebas. Pengetahuan yang didapat selama satu semester, akan dilupakannya begitu saja. Karena mereka merasa kewajiban di semester itu sudah selesai.
Entahlah, aku tidak mengerti apakah yang kupikirkan itu benar atau sebaliknya. Aku hanya coba sedikit membantu mereka menggali diri.
Itu baru satu hal dari dunia pendidikan. Masih ada pendidikan karakter, pendidikan berbasis alam dan lingkungan, kekerasan-kekerasan di dunia pendidikan (yang dilakukan guru pada siswa atau sebaliknya), minat baca dan literasi siswa, dan pendidikan di pedalaman.
Tentang pendidikan di pedalaman, aku merasa bahwa masalah kita di dunia pendidikan terpisah jadi dua. Satu, masalah sistem pendidikan untuk daerah yang memang sudah terjamah dengan sistem berubah-ubah (yang tadi itu). Dua, masalah pemerataan pendidikan di daerah yang ditinggalkan oleh kemajuan. Di satu sisi ada yang sedang meributkan tentang UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer), di sisi lain ada yang sedang meributkan gedung sekolah yang atapnya bocor dan tiangnya sudah condong.
Aku suka sekali mikir tentang semua ini sampai pusing. Sampai membuka sesi konseling ringan dengan murid-murid les, agar mereka segera menemukan dirinya. Sampai meminjamkan buku yang menurutku sesuai dengan karakter mereka dan memaksa mereka membacanya. Sampai punya impian keliling ke sekolah-sekolah di pedalaman Indonesia (Amin). Padahal kan, sudah ada menterinya sendiri yang mikir ini semua. Hahaha!
Selain dunia pendidikan, aku juga tertarik dengan psikologi anak, kesehatan mental, parenting, menu makanan sehat, transportasi umum, hak-hak pejalan kaki dan pengendara sepeda, dan lain-lain. Cukuplah, itu saja.


0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers