#Renungan23: Skala Prioritas Belanja



Naluri perempuan kerap membuat saya gelap mata saat belanja! Niatnya menyambangi diskon untu beli satu item sepatu, eh yang dibawa pulang lebih dari satu barang. Pergi ke minimarket niatnya mau beli sabun, yang dibawa ke kasir ada sabun, keripik kentang, puding dingin, kacang atom, keju, es krim dan lain-lain. .
            Akhirnya, yang saya dapatkan hanyalah semakin bertambahnya barang, namun semakin tipisnya tabungan. Target tabungan yang direncanakan pun sering meleset dari target. Memang barang-barang yang saya punya memang semakin banyak. Tetapi, saya tidak bisa menjamin bahwa barang tersebut benar-benar berguna. Misalnya saja, buku catatan kecil bergambar Menara Eiffel yang pernah saya beli di salah satu toko. Saat itu, niatnya hanya beli alat tulis. Sayangnya buku catatan itu terlihat menarik dan ikut terbeli. Sudah satu tahun lebih buku catatan itu hanya tersimpan di rak buku bagian belakang. Bersama buku catatan lain yang juga masih kosong. Di sudut-sudut kamar, juga ada barang-barang yang terbeli namun tidak pernah terpakai. Dibeli hanya karena unyuk, lucu tanpa pertimbangan lain.


            Saya mulai menyadari bahwa ketika saya belanja, yang menang adalah nafsu. Bukan logika. Maka, mulai sekarang saya membuat skala prioritas belanja sebelum membeli barang.

Skala prioritas nomor satu: Belilah sebuah barang karena kamu butuh.
Skala prioritas nomor dua: Sesuaikan harga barang dengan isi dompet.
Skala prioritas nomor tiga: Barulah pilih yang menurutmu paling unyuk (dengan harga segitu ya)
           
Jadi, walau dapat bonus atau gajian lebih, tetap tidak boleh membeli barang yang tidak dibutuhkan, ya. Meskipun ada yang warna ungu, lucu dan menarik, tetap tidak boleh dibeli kalau harganya melebihi kapasitas uang di dompet. Dan kalau yang sesuai kantong tidak ada yang lucu sekali, maka pilihlah yang lumayan menarik dari yang tidak lucu itu (Apa bisa? Hahaha!).
Semoga aku selalu ingat sama skala prioritas ini, ya!

Putri Lestari

*Notes: tulisan ini lama sekali terbengkalai. Notes ini dibuat biar aku agak menyesal telah menelantarkan tulisan terlalu lama.





0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers