Dari Sebuah Lubang



Malam ini...
            Tan melotot makin lebar saat Juan masuk dan diperkenalkan sebagai anak laki-laki dari pacar Mamanya. Wajah Juan getir saat menatap kekasihnya itu. Sebagai isyarat bahwa malam ini juga kejutan baginya, tak hanya bagi Tan.
            Sesaat kemudian amarah Tan memuncak di hatinya sendiri. Dia menyesal karena memercayai kata-kata Juan sebulan lalu; membiarkan apa yang mereka lihat dari sebuah lubang begitu saja. Tetapi, saat teringat posisi Juan sebagai anak, Tan kembali merunut di mana letak ujung akar dari masalah malam ini. Amarah Tan justru semakin meruncing saat logikanya menasihati, bahwa sebaiknya dia menyalahkan dirinya sendiri. Menyalahkan reaksinya—yang terlanjur terjadi—ketika melihat apa saja dari sebuah lubang.
***
Saat Tan 9 tahun...
            Tan menemukan sebuah lubang di kamarnya. Sebuah lubang udara yang selama ini ditutup oleh pigura fotonya. Mama yang meletakkan pigura besar itu dan melarang Tan memindahkannya. Tetapi, suatu ketika Tan melanggarnya. Tan sedang menghitung cicak di dinding kamarnya saat itu. Enam bulan terakhir, Mama selalu menyuruh Tan menghitung cicak sebelum tidur dengan suara agak keras. Sayangnya, entah satu atau dua cicak—yang dia ragukan—menyelinap di balik figura itu.
Tan tidak tahu harus melanggar perintah Mama yang mana. Dia terdiam sejenak dan turun dari ranjang. Hendak meminta tolong pada Mama untuk menghitung cicak yang bersembunyi itu. Tetapi, pintu kamar Tan dikunci dari luar. Tan harus menggeser pigura itu untuk menghitungnya sendiri. Tubuh tingginya bisa menjangkau pigura dengan bantuan kursi belajarnya. Tan sedikit terkejut. Bukan cicak yang dilihatnya, justru sebuah lubang udara yang menyambung ke kamar Mama-Papa.
             Dari lubang itu, Tan melihat Mama dan Papa saling berpandang. Dia ingin menyapa, melambaikan tangan dan memasang senyum lebar seperti badut. Tetapi, apa yang dilihatnya kemudian membuatnya terdiam. Papa menarik rambut Mama dan menghempaskan Mama ke lantai. Mama menangis sembari menutup mulutnya.
            “Baiklah, kita cerai saja. Bawa anak itu bersamamu,” kata Mama sedikit berbisik.
            “Tidak. Bawa dia bersamamu!”
            Tan melorot, terduduk di kursi. Malam itu, dia tahu bahwa mereka tidak menginginkan Tan.
***
Saat Tan kelas 3 SMP...
            Hidup tanpa diinginkan seseorang tidaklah mudah. Walaupun Tan tinggal bersama Mama, tapi Tan seperti tak mengenal Mama. Mama lebih suka pergi dengan temannya sepulang kerja hingga larut. Sampai di rumah pun, Mama lebih memilih mendengarkan suara televisi sembari memainkan smartphone-nya. Setelahnya, Mama akan masuk ke kamar tanpa mengucapkan selamat malam pada Tan.
            Apa Mama menangis setelah masuk kamar, seperti dirinya? Itulah yang selalu Tan tanyakan ketika Mama masuk kamar. Tan mulai teringat dengan lubang yang pernah membuatnya sakit hati dan mengubah dirinya. Barangkali sekarang lubang itu akan menambal luka di hatinya. Barangkali dia melihat Mama menangis pilu, pertanda Mama menyesali semuanya—Mama juga hancur seperti dirinya.
            Maka, Tan kembali mengintip melalui lubang itu. Matanya kembali terkejut. Mama merokok! Di atas ranjang, sembari memainkan smartphone-nya. Sesekali tertawa kecil saat membaca sesuatu. Tidak ada kesedihan di matanya. Dan saat meniupkan asap-asap itu ke udara, wajah Mama seolah bahagia. Lepas. Bebas.
Tan berpikir sejenak dan mengecek uang dalam dompetnya.
***
Saat Tan masuk SMA...
            Ada sebuah tempat yang Tan temukan di sekolah baru. Di belakang kantor guru dan kepala sekolah. Hebatnya, ada sebuah lubang di tempat itu. Dari sana, Tan bisa mengintip ruang kepala sekolah. Seperti sekarang, Tan bisa melihat seorang siswa laki-laki yang menjulurkan lidahnya ketika dimarahi kepala sekolah. Siswa laki-laki itu menjulurkan lidah dan mengacungkan jari tengahnya, saat pandangan kepala sekolah tak tertuju padanya. Kemudian kembali ke sikap tegak sempurna dan menunduk ketika dipelototi oleh kepala sekolah. Dia laki-laki yang lucu. Bibir dan hati Tan tersenyum bersamaan.
            Sepulang sekolah, Tan melihat laki-laki itu berjalan santai ke kantin. Melakukan tos dengan teman-teman yang juga mengeluarkan kemeja sekolahnya. Salah satu siswa mengoper rokok pada laki-laki lucu itu. Tan tersenyum lebar. Mungkin kita akan cocok. Hatinya berbicara sendiri.
            “Siapa dia?” tanya Tan pada teman yang duduk di sebelahnya.
***
            Namanya Juan. Satu-satunya orang di dunia ini yang menurut Tan, menginginkan dirinya. Juan terkesima saat melihat Tan membawa rokok. Hari itu, Tan sengaja menciptakan situasi agar Juan melihatnya membawa rokok ke sekolah. Agar dia bisa jadi teman Juan. Agar dia bisa dekat dengan Juan, atau bahkan jadi kekasihnya.
Harapan Tan terpenuhi. Mata Juan tak berhenti menatap Tan yang duduk menyilangkan kakinya di bangku kantin, dengan rokok pada pangkuannya. Tan pun bagaikan magnet untuk Juan. Perempuan manis, perokok dan pelanggar peraturan seperti dirinya itu memang menarik. Pastas dijadikan pacar.
Atas dasar percaya pada pacarnya itu, Tan memberitahukan satu tempat rahasia di sekolah. Tempatnya merokok dan pertama kali melihat Juan. Di sanalah mereka akhirnya saling bertukar cerita dan asap. Ternyata Juan pun sama dengannya. Hanya punya satu orang tua. Bedanya, yang dipunya Juan adalah seorang ayah. Bedanya lagi, ayah Juan masih sedikit peduli padanya. Tapi, kata Juan, hormonnya lagi tinggi sebagai seorang lelaki. Suka penasaran dan coba-coba. Percuma juga kalau punya ayah yang pedulinya hanya sedikit.
***
Saat Tan naik kelas...
            Tan dan Juan merayakannya bersama. Mereka sudah berjanji sebelum penerimaan rapor. Naik kelas adalah sebuah keberuntungan luar biasa, karena pelanggaran mereka sama banyaknya. Sore itu, sekolah sudah sepi usai penerimaan rapor. Guru-guru pun sudah banyak yang pulang. Hanya beberapa tersisa. Termasuk kepala sekolah.
            Di tempat itu, mereka merokok dan menghabiskan beberapa camilan. Tetapi, kunyahan mereka berhenti saat mendengar suara-suara dari ruang kepala sekolah. Ada suara seorang wanita, entah siapa. Juan dan Tan memutuskan untuk melihat ke lubang itu. Awalnya yang dilihat biasa saja. Lama-lama kepala sekolah dan wanita itu mendekat, saling mencium. Kemudian, bapak kepala sekolah meletakkan wanita itu di atas meja kerjanya. Mereka saling bergerak pada napas yang tidak teratur.
            Tan sedikit terperangah. Dia menoleh, saling tatap dengan Juan. Tapi, tatapan Juan bukan tatapan heran. Justru tatapannya berbeda. Sesaat kemudian, bibir Juan sudah ada pada bibir Tan. Tangan Juan menyusuri saku kemeja seragam sekolah Tan.
***
Sebulan lalu...
            Malam ini, usai konser peringatan ulang tahun sekolah, Juan minta jatah pada Tan. Mereka langsung menuju tempat biasa dan memanaskan diri. Saat hampir panas, Tan justru meminta Juan berhenti sejenak. Tan melihat kilatan cahaya dari lubang itu. Pun mendengar suara berisik.
Tan memutuskan untuk mengintip. Dilihatnya Pak Narto, guru olahraga, menghidupkan lampu kerja di meja kepala sekolah dan membawa senter. Dia berada di depan brangkas penyimpanan uang yang sudah dibuka. Kemudian mengambil beberapa gepok uang dari sana. Dimasukkan ke dalam tas ransel, dan merapikan semua seperti semula. Lincah dan rapi. Tanpa jejak, Pak Narto segera pergi dari sana.
            “Juan, tadi aku lihat Pak Narto nyuri duit sekolah.”
“Ah, udah biarin aja,” Juan menjawab santai.
            “Lumayan banyak Ju. Apa kita laporin aja?”
            “Eh, jangan!” Wajah Juan sedikit panik.
“Nggak usah cari perkara, Tan. Kita lanjut aja, nangguh nih!”
Juan membungkam mulut Tan dengan mulutnya.
***
Malam ini...
            “Seperti yang Mama bilang kemarin, Mama akan menikah bulan depan dengan seseorang. Sekarang kamu sudah tahu, seseorang itu ya Pak Narto ini. Kamu dan Juan akan jadi saudara. Mama harap kalian cocok.”
            Tan tidak tahu, reaksi apa yang harus ditampakkan. Mama pun tidak akan peduli dengan reaksi Tan. []
           
           
Apa reaksimu saat melihat sesuatu yang seharusnya tidak kaulihat?
Dan apakah kau pernah menyesali reaksi itu?
Putri L

*ditulis secara suka-suka karena ingin ikut Nulis Bareng Alumni (Kampus Fiksi) yang bertema REAKSI.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers