[Bagian Random] Kencan Pertama



Tangan kananku masih menggenggam dua tiket itu dengan erat.
“Aku percaya, jika tak semua orang punya ayah.”
“Mana mungkin kau lahir, jika kau tak punya ayah.”
“Coba tanyakan pada orang yang kau panggil ayah; apakah suaraku terbata saat berbohong?, apakah aku menangis jika terjatuh saat belajar sepeda?, di mana aku menyembunyikan kertas ulangan yang nilainya jelek?, apakah kepalaku menunduk saat dimarahi?, aku lebih suka balon atau aromanis?, dan apa kau ingat tanggal lahirku?”
“Emmmm….”
“Kau mulai tak yakin dia bisa menjawabnya?..... Jadi????”
“Aku hanya sedang berpikir.”
“Kemudian tanyakan pada dirimu sendiri; apa kau pernah mendengar cerita tentang nabimu darinya?, apa dia membelamu saat kau digoda teman laki-laki sekelasmu sepulang sekolah?, apa kau pernah bercakap panjang-lebar dengannya tentang ibu yang cerewet di pagi hari?, apa kau pernah mengatakan isi hatimu padanya? dan apakah kau ingat bentuk mata, hidung, juga rahangnya? Jika jawabannya tidak, aku rasa kau akan sepakat bahwa tak semua orang punya ayah.”
“Tapi, bukankah ada seorang laki-laki yang menitikkan air mata saat aku lahir? Ada seorang laki-laki yang pernah menggendongku saat bayi, kemudian seenaknya menciumku.”
                 “Lalu, apa laki-laki itu bisa kau andalkan sejauh ini—sejauh kau tumbuh? Apa laki-laki itu tahu tentang dirimu? Apa dia tahu apa yang kau sukai? Apa dia masih—dan selalu—bersamamu?”
                 “Emmm…. Aku tidak tahu jawabannya.”
                 “Kau tidak bisa menjawabnya atau tidak berani menjawabnya?”
                 “Entahlah….”
                 Hening. Sebelah diriku tidak berani bertanya pada sebelah diriku yang lain.
***
Matamu mengekor seorang ayah yang menggandeng putri kecilnya keluar dari pintu tempatmu berdiri. Aku tidak tahu persis apa yang kau pikirkan, tapi dari kejauhan aku bisa melihat cairan bening yang bermuara di sudut matamu. Kau mulai menunduk ketika menyadari bahwa pintu itu sudah ditutup dan sekitarmu sepi.
“Hei, ayo kita pulang. Kau sudah menunggu sejak tempat ini dibuka tadi pagi. Apa kau masih ingin menunggu?”
Kau tersentak dan mendongak. Sebuah senyum yang terkesan dipaksakan terpasang di wajahmu. Tanganmu sedikit gemetar saat meremas dua tiket itu dan melemparnya ke tempat sampah. Aku meraih tanganmu dan menggenggamnya erat.
“Kalau kita punya anak perempuan kelak, ajaklah dia jalan-jalan hanya berdua denganmu. Belikan balon atau aromanis. Gandeng tangannya sepanjang perjalanan. Itu adalah kencan pertama yang diinginkan seorang anak perempuan.”
Suaramu terbata. Kau mengatakannya sambil menunduk dan mengeratkan genggamanmu pada tanganku. Aku mengelus kepalamu pelan. Agar sedikit terobati hatimu yang hancur atas kencan pertamamu yang tak pernah kau dapatkan.



By: Putri Lestari—gadis kecil yang memakai gaun selutut berwarna ungu muda di kencan pertamanya.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers