Surat: Dari Temanmu. . .

Hai,
Maaf, aku hanya meniru caramu menyapaku setiap pagi, dulu. Itu ungkapan yang pas untuk membuka surat ini. Karena kita sudah lama tak bertegur sapa.
Aku merasa perlu menuliskan surat ini. Agar pengkhianatan yang kulakukan pada diriku sendiri, segera usai. Butuh waktu sebulan, untukku menangkap basah pengkhianatan itu. Ada rasa berbesar hati, karena aku bisa mengalahkan ego kemudian memenangkan kejujuran. Tapi juga ada sedikit rasa sakit. Ah. . . mungkin tak sedikit. Tanganku masih bergetar saat menuliskan “rasa sakit” dalam surat ini.
Bagaimana kabarmu? Aku berharap kau sehat dan mengurangi rokokmu.
Terus terang, aku sedang tidak baik. Ada segumpal luka yang kubuat sendiri di hatiku. Entah sengaja atau tidak, aku tak paham. Semua ini begitu cepat terjadi, hingga banyak kesemuan yang kupercayai.
Sebulan yang lalu, malam itu, barangkali menjadi awal dari semuanya. Saat aku mengatakan padamu bahwa aku tengah menyukai seseorang. Seseorang yang sulit kuraih. Seseorang yang bahkan tak kutahu sebesar apa bola matanya. Dia tak pernah melihat ke arahku. Jujur saja, aku menyimpan banyak kepedihan selama memendam rasa untuknya. Pedih, saat tahu, dia punya gebetan baru hingga pacar baru. Kabar itu kudapat silih berganti. Kabar yang menusuk hatiku. Dan memaksa hatiku berkata aku tidak kuat memendam sendiri.
Berlarilah aku ke arahmu. Seseorang yang selalu menemani hari-hariku. Seorang teman yang bersamaku dan tak pernah membuat hatiku pedih. Dan malam itu, ada dua ungkapan cinta. Ungkapan cintaku untuknya yang kucurahkan padamu—atas rasa tidak kuatku memendam—dan ungkapan rasa cintamu. Rasa cinta dari seorang teman. Barangkali waktu itu aku sedang tidak siap menerima ungkapan cinta dari seorang teman.
Bolehkan, jika aku menyebutmu sebagai teman yang jahat? Malam itu, kaujatuh cinta sekaligus patah hati. Umur cintamu cukup sampai di situ. Detik itu juga. Kamu memutuskan untuk mengungkapkannya. Kemudian memutuskan untuk meninggalkanku, setelah tahu bahwa selama ini aku menyukai orang lain. Tapi aku bisa bilang kauberuntung, karena cinta dan patah hatimu begitu cepat terjadi. Tak butuh waktu lama bagimu untuk memutuskan berhenti menyukai. Lebih tepatnya, berhenti menyukaiku. Bahkan saat kau belum mendengar apa pun dariku, kecuali ungkapan rasa suka yang kupendam pada orang lain.
Malam-malam sepi sebulan ini kuhabiskan seorang diri di dekat jendela. Menatap rembulan dan mengingat malam-malam yang selalu kita habiskan di kedai kopi. Ah iya, aku bersyukur menemukan teman ngopi seperti dirimu. Setiap malam, kau dan aku berceloteh ini-itu, hingga tak pernah sadar, kedai sudah dirapikan. Kemudian kita tertawa sepanjang jalan; menertawakan kebodohan kita. Betapa bodohnya kita, secangkir kopi saja bisa menyihir otak dan kewarasan. Hingga tak pernah sadar orang-orang di kedai itu mulai bergegas ke kasir dan pergi. Tapi akhir-akhir ini aku baru menyadari bahwa boleh jadi bukan kopi yang membuat kesadaran kita sirna. Teman yang ada dihadapan dan membagi kisahlah yang sejujurnya telah menyihir semuanya. Menyihir kesadaran, pun menyihir waktu yang terasa singkat. Padahal kita sudah ngobrol berjam-jam di kedai itu.
Hingga di malam ke tiga puluh, aku merasa perlu menuliskan surat ini. Surat untuk seorang teman yang jahat. Bolehkan kau kubilang jahat?
Kau memang jahat, karena membiarkanku patah hati seorang diri. Seminggu dari kurun waku sebulan ini, aku menyadari satu hal. Sesuatu yang selama ini kuingkari. Hingga rela kukhianati diriku sendiri. Satu hal itu adalah aku mencintaimu. Iya, aku mencintaimu.
Dan kau memang jahat. Karena kau membiarkanku patah hati terlebih dahulu sebelum sempat mengatakan bahwa aku mencintaimu. . .

Semoga lain kali kautemukan surat ini. Mungkin saat kaukembali dan ingin menyapaku. Aku berharap kamu baik saja di tempat yang tak kutahu.

Salam. Temanmu. . .

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers