Seandainya. . .

Matamu menyiramkan kepedihan tak terperi pada seseorang yang kau tatap hampa. Genap dua hari nyawamu seolah terbang entah kemana. Tangismu terdengar memilukan ketika berdiskusi dengan Tuhan untuk mengulang waktu.
Kau tak pernah menyangka bahwa seluruh hidupmu akan hancur dalam waktu sekejap, hanya karena kau salah “mencintai”. Sesuatu yang kaucintai, bahkan kaugilai dengan seluruh hidupmu itu memang sudah kaulepaskan begitu saja. Sayangnya itu tak memusnahkan racun yang terus berkelindan di dalam hatimu. Pedihnya, itu adalah racun yang kaubuat sendiri.
Amarahmu pada diri sendiri seolah tak pernah habis. Padahal kemarin kau sudah mengamuk hingga batas gilamu samar. Ruangan itu. . . kau hancurkan! Ruangan yang belakangan seolah keramat bagimu. Ruangan yang mungkin merindukan dirimu yang dulu. Tanganmu yang menari pada kertas-kertas kosong. Tempat menuangkan imaji tak terbatas yang berkutat di kepalamu. Matamu yang jeli menyematkan beberapa pernik cantik nan elegan. Konsentrasi kaucurahkan begitu dalam pada kertas itu, hingga menolak bocah yang membawa sebuah buku dongeng dan menarik ujung gaun tidurmu. Ruangan yang bertahun-tahun menemanimu dalam kubangan obsesi yang kau atas namakan impian.
Obsesi atau impian itu pernah mengantarkanmu hingga puncak yang kauidamkan. Kauimpikan. Kau usahakan mati-matian hingga mengorbankan seluruh hidupmu—yang baru kau sadari belakangan ini. Aku masih ingat betapa bahagianya kau saat itu. Malam itu kau tak mengahabiskan banyak waktu di ruanganmu. Tapi bersama orang-orang yang menghujanimu dengan kata selamat. Dari balik jendela kamarku, aku mengintip salam perpisahan bahagia pada mereka yang mengantarmu pulang di waktu yang ragu kusebut malam atau pagi. Sayangnya itu menjadi kebahagiaan terakhirmu.
Sebuah badai datang dalam hidupmu. Bahkan kau tak pernah menyangka jika badai itu bagaikan “musuh dalam selimut”. Selama ini sudah mengincarmu, tanpa pernah kau sadari. Kau murka. Sangat murka.
Ruangan itu kau jadikan pelampiasan. Kertas-kertas yang sudah kaububuhi gambar berhamburan. Kau merobeknya dengan emosi yang begitu tinggi. Tak peduli kau pernah menggambarnya hingga batas sadarmu punah.
Emosimu yang mengerikan itu beralih pada tas-tas yang kaudesain untuk perusahaanmu. Itu hasil karyamu selama bertahun-tahun. Kau abadikan di ruang kerja dengan apik. Dan sekarang kau membanting semuanya.
Kau masih belum puas. Tanganmu memegang ‘tas kebanggaan’. Tas yang telah mengantarkanmu pada kebahagian tak terhingga itu. Pada puncak yang kauidamkan, tapi tak pernah kau rasakan semilir angin di puncak itu. Dan tak akan pernah. Karena kau memilih berada di kamar ini pada waktu yang lama dan lama.
Seandainya. Kata itu muncul saat kau menatap wajah putrimu yang sedang pulas.
Seandainya. . . aku sadar lebih awal bahwa impian terbesarku bukanlah pekerjaanku tapi masa depanmu. . .
Sedandainya. . . kusediakan sedikit waktuku untuk mendengar ceritamu yang tata bahasanya masih kacau tapi penuh semangat. . .
Seandainya. . . kuluangkan waktu untuk mendongeng kemudian kuselipkan beberapa nasihat dan peringatan untukmu. . .
Seandainya. . . aku banyak memberikan kasih sayang untukmu. . .
“Seandainya” adalah kata yang cukup menghibur sekaligus menikam dirimu. Kau tersenyum saat membayangkannya, kemudian muram setelah menyadari itu tidak mungkin. Putrimu terlanjur menemukan sepasang telinga yang mau mendengarkannya dengan sabar. Putrimu terlanjur menemukan kasih di tempat lain. Kasih yang siap mendongeng untuk putrimu sebelum merengkuhnya dalam peluk tak terlupakan.
Aku telah gagal menjadi seorang ibu. . .
Kau kembali mengucapkannya bersama air yang merembesi pipi. Sejak putrimu yang belum lulus TK itu dicabuli oleh pacar Minah—pengasuh anakmu—kau selalu berucap demikian.
Hidupmu hancur. Hatimu seperti dibunuh berkali-kali. Rasanya pedih. Pedih sekali. Aku tahu betapa itu menyiksamu. Aku paham benar. Karena aku pun pernah dihantui oleh pengandaian yang begitu menyiksa.
Seandainya. . . aku meluangkan banyak waktu dan kasih untukmu, pasti kau tak akan mencari kasih di luar sana—yang membuatmu merasakan kehamilan sekaligus keguguran saat baru lulus SMA.
Seandainya. . . aku sempat memberitahumu—dan diriku sendiri—bahwa perempuan dilahirkan untuk menempati tiga posisi. Sebagai anak, sebagai istri, dan sebagai ibu—mungkin saja kau tak akan menganggap dirimu gagal seperti sekarang.
Sayangnya aku harus terbunuh oleh racun yang sama denganmu, setiap hari. Bahkan hingga aku benar-benar meninggalkanmu dari dunia ini seminggu yang lalu, racun itu tetap bersarang di hatiku.


_putri lestari

2 komentar:

  1. Bikin baper bagian ini, Put:
    Seandainya. . . aku sempat memberitahumu—dan diriku sendiri—bahwa perempuan dilahirkan untuk menempati tiga posisi. Sebagai anak, sebagai istri, dan sebagai ibu—mungkin saja kau tak akan menganggap dirimu gagal seperti sekarang.
    ihiksihiksihiks :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nulisnya pun aku baper Fea....
      Aaaahhhhh Fea... makasih udah mampir di blog juniormu. . . *emot peluk cium. :D

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers