Seleksi Alam


Kita bertemu. Kita bertegur sapa. Kita berceloteh. Dan kita ada.
Dua tahun berlalu.
Aku merasa ruh kebencian sedang ditiupkan pada hati terdalam ini. Semakin hari semakin menyadari sesuatu yang harusnya wajar. Tapi rasanya ada yang hambar. Ada yang mengganjal. Sesuatu yang susah dikatakan karena ada satu ikatan antara kau dan aku.
Memendam. Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu. Sembari membisikkan sugesti berkali-kali pada hatiku. Kau tak berubah! Kau masih sama seperti dulu! Kemudian satu logika datang menyangkal dengan dahsyat. Kau berubah! Kau tak sama lagi seperti dulu!
Ada bongkahan emosi yang ingin kusampaikan padamu. Namun adakalanya aku sadar sendiri. Itu tak pantas disampaikan. Akulah yang tertinggal. Akulah yang bersalah.
“Sorry ya, aku nggak bisa nganter,” katamu santai disusul bunyi tuts tuts tuts. Terputus.
Tersisalah aku sendiri di dalam taksi. Tiga puluh menit yang akan datang, tak ada kau yang akan melambaikan tangan untukku. Menanti hingga ekor kereta pergi dari stasiun seperti biasanya. Tak ada.
Apa aku harus mencari penggantimu?
Bukankah posisimu tak akan pernah terganti?
Angin staisun melambaikan salam perpisahan untukku. Hanya dia, tak ada yang lain. Pun tak ada kau.
Apa kau juga berpendapat sama?
Apa kau juga meletakkan aku di posisi tak tergantikan itu?
Seleksi alam. Mungkin kau percaya itu. Ah, tidak. Semua orang juga percaya itu. Aku saja yang terlalu kolot hingga menempatkan dirimu sedemikian rupa sehingga kau tak akan terseleksi oleh apapun.
Hingga kau memulainya dahulu. Melakukan seleksi alam besar-besaran dalam hatimu. Dan aku… punah!
Seseorang datang dalam dua bulan. Walaupun kita sudah lebih dari dua tahun, tetap saja si dua bulan itu lebih berarti untukmu. Aku memakluminya. Tapi aku tak menyangka kau melakukan perombakan besar atas semua itu. Termasuk merombak hubungan kita.
Ada yang salah dengan dirimu. Ah, tidak, ada yang salah dengan diriku. Ah, lagi-lagi pikiranku dibuat terbolak-balik atas semua ini.
Tentu kau masih ingat, aku selalu bersedia melakukan apapun untukmu. Menemanimu kemanapun kau mau. Termasuk melakukan perjalanan ke luar kota dengan kereta ini, satu tahun yang lalu.
Hal-hal kecil seperti menemanimu makan, menemanimu membeli sepatu, jogging, mungkin akan kau lupakan begitu saja. Tapi perjalanan ke luar kota itu, harusnya kau masih ingat. Karena aku bersedia mencairkan semua tabunganku untuk menemanimu travelling.
Kukira kau masih mengingatnya. Tapi, apa boleh buat jika kau melupakannya dalam sekejap saat seseorang itu datang dan membuatku terseleksi.
Dia yang menggantikan semua tugasku dulu. Menemanimu, memenuhi semua permintaanmu. Dan kau bahkan tak mau menyisakan sedikit waktu di sela harimu dengan dia untuk diriku.
“Ve, aku nggak bisa. Besok aku mau nonton sama pacarku. Udah beli tiket. Emang kamu nggak punya temen lain? Kalau gitu naik taksi aja dech. Sorry ya, aku nggak bisa nganter,” katamu santai disusul bunyi tuts tuts tuts.
Terputus.
Sunyi. Perjalananku menjadi sunyi saat kau menemukan dia. Entah siapa yang salah. Aku yang belum menemukan siapa-siapa, atau kau yang berubah ketika menemukan dia.
Tapi aku masih berharap kau mengirim sebuah pesan singkat. Setidaknya untuk menanyakan apakah aku sudah sampai. Karena kau tahu, tak ada yang melakukannya untukku seperti dia yang melakukannya untukmu.
***
Satu minggu…
***
Satu bulan…
***
Satu tahun…
Ternyata kau tak pernah mengirim pesan singkat itu. Bahkan untuk bertanya kenapa kau tak pernah muncul lagi di kantor? Sekarang kau kerja di mana, pindah di mana?

Putri Lestari

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers