Di Atas Udara Perasaan Itu Menguap

Aku sedang menebak-nebak, kira-kira prosesi apa yang tengah kamu siapkan. Kamu selalu tergila-gila berprosesi. Segala sesuatu harus dihantarkan dengan sempurna dan terencana.[1]
Hatiku memprasangkai sambil memandangi tengguk laki-laki yang berjalan tepat di depan. Dia menggandeng tanganku dan membimbing langkah ini. Katanya ada hal yang harus dilakukan.
Kita sampai di sebuah tanah lapang sangat luas. Seukuran lapangan sepak bola atau mungkin lebih. Aku berdiri terpekur dan terpana.
Semua sudah dipersiapkan apik. Tanpa cela. Sudahlah, ini memang kehebatannya. Dan perasaanku semakin dibuat sungkan.
Sepertinya awan hanya sejengkalan dari kepala. Mudah saja diraih dengan uluran tangan. Perjalanan ini menyenangkan, tapi tetap menggelisahkan. Jari-jariku tak berhenti beradu. Bak memainkan ketukan nada pada partitur lagu. Sementara detak organ di dalam tubuhku semakin kencang berpacu.
“Apa kau senang dek?”
Mas bintang bertanya seraya menatap hamparan udara.
Hatiku menggigit keras katupnya. Melarangnya bersuara sedikitpun. Haruskah rahasia itu terungkap sekarang? Saat dia sedang mewujudkan harapanku.
“Iya,” jawabku lemah.
Onggokan perasakan ganjil turut menyertai.
Ada keanehan yang menyembul keluar dan kini menguasai pikiranku, yang membuat aku berjarak dengnan diriku sendiri dan memunculkan satu tanya: mengapa kulakukan ini?[2]
Harusnya aku menolak saja saat dia mengatakan akan menunjukkan sesuatu. Atau aku langsung saja menuju goal yang kuinginkan, sebelum sampai di sini.
Keanehan lain menyusul, yakni jawaban muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir: memang ini jalannya.[2]
Memang harus dikatakan di sini!
Mas Bintang mulai memperlihatkan skillnya. Menambahkan gas panas agar kita mencapai ketinggian yang sempurna. Aku melongokkan kepala melewati batas keranjang. Kata Mas Bintang keranjang yang kita naiki ini disebut basket. Dia memberi tahu saat kita hendak mengudara. Envelope dan burner juga dua bagian penting dalam perjalanan kita. Envelope berupa kantong balon penampung gas hidrogen. Burner yang sekarang Mas Bintang kendalikan, tentu saja untuk mengatur tekanan udara di dalam envelope. Sekaligus mengatur ketinggian yang diinginkan.
Tiga hal itu yang paling kuingat sebelum kita memasuki basket. Saat perasaan antusias meluap-luap. Melihat kibaran balon besar begitu menantang. Harapanku akan terwujud!
Mas Bintang mempersiapkan semuanya dengan apik. Senyumnya sangat puas melihat kilatan bahagia di mataku. Kemudian perasaanku tergugu. Bersama basket yang perlahan naik. Membawa aku dan dia jauh dari tapak gravitasi.  
“Segini, kamu nggak takut kan?” tanyanya sambil membelai rambutku pelan.
Hatiku gemetar. Haruskah dia tahu kalau perasaanku sudah menguap? Bahkan sebelum kita membumbung naik.
“Harusnya aku belajar lebih cepat untuk mengemudikan balon udara ini. Agar lebih cepat membawamu melihat bumi dari atas. Sebenarnya prinsip kerja balon udara sangat sederhana. Hanya memanaskan udara di dalam balon agar lebih panas dari udara di luar. Begitu kata seorang ilmuwan bernama Howstuff. Sayangnya aku seorang seniman yang membenci fisika saat sekolah dulu. Susah sekali mengerti ini-itu yang menurut mereka mudah.
Fluida, Hukum Archimedes, Gaya apung, entahlah, susah sekali dimengerti. Apalagi balon udara melintas teori gaya apung dari zat cair ke zat gas. Kemudian digunakan sebagai prinsip dasar kerja balon udara. Hah, aku memang bodoh. Butuh waktu lama untuk mengerti itu.
Dan akupun harus belajar menerbangkannya. Agar harapanmu terpenuhi. Belajar mengisi balon dengan hidrogen untuk menambah gaya apungnya. Balon secara perlahan-lahan naik saat gaya apung lebih besar dari berat balon. Itu bisa dilakukan dengan memanaskannya.”
Senyap. Aku dan udara hampa mendengarkannya hikmat. Pedih. Aku paham benar bagaimana dia membenci mata pelajaran fisika. Nilainya tak pernah bisa mencapai 6 di kelas.
Aku menengok ke bawah lagi. Kikuk.
“Kau tenang saja, sekarang kita berada di keadaan setimbang. Tidak akan jatuh. Hhaa, betapa ilmuwan-ilmuwan itu sangat cerdas. Tinggal menunggu arah angin membawa kita ke mana saja di ketinggian ini. Mereka hebat bukan, memperhitungkan semua ini?
Tapi. . . kau lebih hebat dek. Sudah menciptakan harapan dan membuatku jungkir-balik untuk mewujudkannya.”
Dia selalu mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Aku mengagumi kelebihannya sekarang. Kelebihan yang sekaligus membuat hatiku menderu kencang. Merasa bersalah.
“Kamu nggak pa-pa dek?”
“Eh, he’em. Nggak pa-pa mas. Aku cuma. . .”
“Cuma seneng karena harapanmu terwujud?” tanyanya antusias.
Raut wajah Mas Bintang berseri. Benderang. Lebih benderang daripada langit yang terasa semakin dekat.
“Dulu kau selalu bilang ingin naik balon udara. Bahkan waktu kecil pernah merengek diberi hadiah balon udara saat ulang tahun ke sepuluh. Gara-gara lihat penyanyi cilik idolamu naik balon udara di video klip lagunya.”
Aku tercengang. Dia mengingat harapan konyol anak sepuluh tahun. Setitik embun di pelupuk mataku mulai tumbuh di sore ini. Hatiku mulai mendesak. Jangan bungkam lagi!
“Itu kan sudah lama sekali,” kataku sedikit datar.
Mas Bintang menoleh. Memperhatikan wajahku dari samping. Aku enggan menatap matanya. Udara kosong di depan terasa tak lebih menyakitkan.
“Apa ada harapan yang kau inginkan lagi? Hanya dua minggu kita nggak bertemu. Kau sudah main rahasia saja denganku,” godanya sambil menyenggol bahuku.
Hatiku semakin mantap untuk mengatakannya. Semua sudah menguap. Hambar. Yang ada hanya kosong dan hampa udara.
“Tidak. Tapi ada yang ingin kukatakan,” kataku terbata.
“Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu.”
Angin berhembus pelan melewati keheningan kita.
“Mas, aku. . . aku sudah menantimu sejak lama. Kita berteman sejak kecil. Beranjak remaja dan dewasa bersama. Bahkan aku sempat berpikir untuk beranjak tua pula bersamamu.
Saat aku berusia 15 tahun dan kau 17 tahun, kita memutuskan untuk memulai hubungan ini. Hubungan spesial yang membuat kita belajar komitmen dan. . . membuatku belajar berkhianat.
Aku benar-benar minta maaf. Aku sudah 24 tahun. Dan aku sudah menantimu sejak tiga tahun yang lalu. Menanti kepastian darimu, kemanakah kita akan bermuara? Kemanakah hubungan 9 tahun itu akan berakhir?!
Dua bulan terakhir aku mulai membuat keputusan. Kuputuskan untuk berkhianat. Pada laki-laki yang berani memberi janji masa depan. Dua minggu yang lalu, tepat saat kau menghilang, aku sudah memastikan masa tuaku dengannya.”
Air mengalir menganak sungai dari mataku. Dagu ini hanya muara tetesan yang begitu basah.
“Apa kau melupakan laki-laki yang selalu berusaha mewujudkan harapanmu?”
Isakanku mengaung lembut di atas langit.
Hampir lima menit kita saling diam. Mas Bintang masih menatap udara di depan.
“Sayang sekali ya. aku terlambat dua minggu. Hanya untuk mempersiapkan ini semua,” katanya pelan diikuti senyum pahit.
Tangannya merogoh saku celana. Mengeluarkan sebuah cincin.
“Bahkan aku sudah membeli ini sebelum dua minggu yang lalu,” katanya sambil melepaskan cincin dari genggamannnya.
Cincin itu terbawa graviratasi. Jatuh tanpa ampun. Aku menangis sejadinya. Mungkin sekarang perasannya sudah menguap habis. Bahkan uapnya mengalahkan uap perasaanku yang kukira telah menguap tanpa sisa.

Catatan kaki:
[1] cuplikan cerpen Selamat Ulang Tahun karangan Dewi Lestari dalam novel Rectoverso, diterbitkan oleh Bentang Pustaka, hlm 26.
[2] cuplikan cerpen Peluk karangan Dewi Lestari dalam novel Rectoverso, diterbitkan oleh Bentang Pustaka, hlm 58.

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Google+ Followers